Buletin Bisnis

2010, Ditargetkan Rotan Indonesia Berjaya di Dunia

Juli 12, 2007 · 1 Komentar

Jakarta – Sebagai penghasil bahan baku rotan terbesar yang menyuplai 85% kebutuhan pasar dunia, namuan pangsa ekspor mebel Indonesia hanya sebesar 2,9%.            

Untuk itu, pemerintah dan Asosiasi Industri Pemebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) menargetkan industri mebel berbahan baku rotan dapat kembali berjaya di pasar dunia pada 2010.              

Menteri Perindustrian Fahmi Idris dan Ketua Umum Asmindo Ambar Tjahyono mengemukakan hal itu di Jakarta, Kamis (12/7).                

Mereka memberikan keterangan pers terkait penyelenggaraan pameran internasional furnitur dan kerajinan Indonesia (IFFINA) di Jakarta, 5-9 Maret 2008.                 

Asmindo berharap rotan bisa menjadi primadona mebel untuk ekspor. Seiring dengan bergesernya selera pasar dunia kepada produk rotan plastik.                

“Apalagi, rotan tumbuh dari Sabang sampai Merauke dan menjadi salah satu industri yang menyerap tenaga kerja cukup banyak,” kata Ambar.               

Data Departemen Perindustrian (Depperin) menunjukkan tingkat utilitas industri furnitur mengalami penurunan. Jika pada 2003 utilitas industri furnitur mencapai 72,42%, maka pada 2006 angka itu melorot menjadi 66,41%.              

Hal yang sama terjadi pada perkembangan ekspor produk rotan olahan. Jumlah produksinya terus mengalami penurunan, di mana pada 2003 sebesar 381 ribu ton), 2004 (386 ribu ton), 2005 (386 ribu ton), dan 2006 (372 ribu ton).               

Menurut Menteri Perindustrian (Menperin) Fahmi Idris, terus menurunnya kinerja industri mebel berbahan baku rotan tersebut terjadi karena beberapa faktor. Pertama, kurangnya suplai bahan baku di dalam negeri akibat adanya illegal logging dan perdagangan ilegal. Kedua, persoalan kualitas produk yang kalah bersaing dengan kompetitor dari negara lain.             

“Sangat tragis, kalau furnitur Indonesia berbasis rotan kalah bersaing dengan penghasil rotan dari negara lain,” kata Fahmi kepada wartawan.              

Bagaimana pun juga, lanjut Fahmi, jika keunggulan tersebut tidak dipelihara maka akan tertinggal jauh dari negara lain.              

Menurut dia, saat ini pangsa ekspor produk mebel Indonesia hanya sebesar 2,9% atau senilai US$2,2 miliar. Tertinggal jauh di belakang Cina dengan nilai ekspor US$10,13 miliar (13,69%) dan Jerman dengan nilai ekspor US$6,23 miliar (8,43%).                

Nilai ekspor rotan olahan sendiri mengalami fluktuasi, yakni 2003 (US$ 358.798 ribu), 2004 (US$397.077 ribu), 2005 (US$408.908 ribu), dan 2006 (US$398.863).              

Padahal, tren perkembangan perdagangan mebel dunia terus meningkat. Pada 2005, nilai perdagangan mebel dunia mencapai US$80 miliar atau meningkat 5,2% dibandingkan 2005 (US$76 miliar).                

Dalam kesempatan itu, Fahmi meminta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) untuk segera memetakan langkah-langkah kongkrit untuk membangun industri berbahan baku rotan.              

“Perlu langkah-langkah konkret dan prinsipil. Berjaya bukan hanya di sini tapi juga di pasar global,” cetus dia.            

Ia mengatakan peningkatan daya saing industri mebel dari rotan harus dimulai dengan meng-upgrade (meningkatkan) kompetensi pengrajin rotan di daerah-daerah penghasil rotan, seperti Sulawesi Tengah dan Kalimantan Tengah. Tujuannya, memberikan nilai tambah terhadap produk ekspor Indonesia.             

Kadin sendiri mendorong pemerintah daerah untuk giat membangun sentra-sentra industri rotan di daerah. “Yang kita mau bangun ini industrinya, bukan sekedar membangun pabrik,” kata Wakil Ketua Umum KADIN Rachmat Gobel.              

Kadin telah menargetkan ekspor furnitur pada 2010 sebesar US$3 miliar, atau meningkat US$600 juta dari target tahun ini.             

“Tidak hanya ekspor tapi juga perluasan lapangan kerja. Setiap US$1 miliar untuk mebel bisa menyediakan lapangan kerja bagi lima juta orang,” ujarnya.                 

Kepala Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) Bachrul Chairi mengingatkan, sejumlah kendala yang kerap menjadi batu sandungan bagi para eksportir furnitur antara lain soal eco label dan kampanye anti produk kayu. Biasanya, hal tersebut gencar disuarakan oleh para pesaing Indonesia.  

Sumber : Media Indonesia

Kategori: Berita Utama (1)

1 response so far ↓

  • Selo // Juni 25, 2009 pada 1:52 pm | Balas

    semoga apa yang diharapkan bisa diwujudkan. saat ini harga rotan semakin tinggi, sedangkan persaingan harga kerajinan rotan kita VS china sangat tipis. seharusnya kita unggul sebab kita mempunyai bahan bakunya… sayang sekali. btw, thanks untuk artikelnya.

    http://seloagro.wordpress.com

Tinggalkan sebuah Komentar