Jakarta – PT Pertamina (Persero) akan menyiapkan US$100 juta dari US$1,8 miliar yang dibutuhkan untuk memodifikasi Kilang Cilacap, Jawa Tengah. Sedang sisanya akan ditanggung kontraktor Mitsui & Co.
Hal itu diungkapkan Direktur Utama Pertamina Ari Soemarno di Jakarta, Jumat (13/7). “Kalau ekuitas perlu 30%-40%, jadi uang ekuitasnya perlu US$500 juta. Kalau 20% dari US$500 juta kan US$100 juta. Itu kan harus kita lihat. Sedang sisanya yang US$1,5 ada di bank. Partisipasi Pertamina hanya minoritas,” kata Ari.
Kecilnya partisipasi Pertamina dalam proyek itu karena memang melihat kemampuan BUMN tersebut pada saat ini. “Jadi ngembangin kilang perlu kajian yang mendalam.
Harga peralatan konstruksi sangat tinggi. Estimasi yang di Cilacap yang tahun lalu dibawah US$1 miliar, tapi sekarang US$1,8 miliar. Kita lihat kemampuan perusahaan,” jelasnya.
Sementara untuk Feed (front end engineering design/rekayasan desain menyeluruh) kilang Cilacap, kata Ari, Pertamina akan menggandeng kontraktor Chiyoda (Korea), JCC Engineering Birmingham UK, dan Bechtle.
Meski belum menentukan kontraktor pilihannya, ia memastikan, proses Feed tersebut akan selesai pada tahun ini. “Feed harus selesai tahun ini. Setelah itu diharapkan yang mulai pekerjaan lapangan tahun depan. Mulai setor (dana) akhir tahun atau awal tahun depan. Kita pasti masukkan. Dananya dari mana nanti kita lihat,” ujarnya.
Ia memperkirakan, proyek konstruksi modifikasi Kilang Cilacap itu akan memakan waktu setidaknya tiga tahun. Dengan modifikasi kilang Cilacap ini, Pertamina berharap dapat meningkatkan kapasitas produksinya 50 sampai 60 ribu barel per hari.
Kilang Cilacap adalah kilang Pertamina yang produksinya terbesar, yaitu 348 ribu barel per hari. Pertamina juga berharap dengan melakukan revamping pada unit cracking kilang tersebut, nantinya kilang Cilacap juga akan menghasilkan olefin dan LPG.
Selain melakukan modifikasi pada Kilang Cilacap, Pertamina juga berencana melakukan revamping pada semua kilangnya. Targetnya, paling cepat pada tahun 2010-2011 semua kilang sudah dimodifikasi.
Rencana pembangunan kilang Pertamina terus menerus tertunda. Padahal, penjajakan kerja sama berulang kali dilakukan dengan sejumlah perusahaan migas dari luar negeri.
Pertamina pernah menjajaki kerja sama dengan Sinopec untuk pembangunan kilang di Tuban dan Kuwait Petroleum Company untuk kilang di Selayar, Sulsel.
Pertamina juga telah melakukan pembicaraan dengan perusahaan yang akan mengembangkan kilang di Parepare, Sulsel. Saat ini Pertamina memiliki tujuh kilang dengan total kapasitas sekitar 1,05 juta barrel per hari. Sebagian besar sudah tua dengan kapasitas pengolahan kurang dari 100.000 barrel dan produknya bukan jenis yang bernilai tambah tinggi secara komersial.
Sumber : Media Indonesia