Kita tidak dapat mencegah masuknya serbuan kontraktor/konsultan asing ke pasar konstruksi nasional. Menyikapi kondisi seperti itu yang dapat dilakukan oleh pengusaha konstruksi kita adalah mempersiapkan diri dan membentuk kelembagaan yang kuat guna menghadapi persaingan global. Tahun depan (2008) pemerintah akan menaikkan anggaran infrastruktur bidang konstruksi sebesar 1,5 kali lipat dari tahun ini. Disisi lain pasar konstruksi luar negeri juga terbuka lebar bagi kontraktor dalam negeri.
Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengutarakan hal itu dalam keterangannya kepada pers usai membuka Musyawarah Nasional Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional (LPJKN) Selasa (31/7) di Jakarta.
Dalam pengarahannya Menteri PU minta kepada LPJKN agar memiliki kualitas untuk membina kontaktor nasional. Hal ini sangat penting untuk memenangi persaingan yang semakin berat. Pemerintah berharap pasar konstruksi dalam negeri tetap dikuasai kontraktor lokal disamping merebut pasar luar negeri.
“Ke depan LPJK dituntut dapat menciptakan kontraktor profesional yang mumpuni. Ini tugas utamanya, disamping mengurus sertifikasi” tegas Djoko Kirmanto, dalam sambutannya didepan peserta Munas yang akan bersidang selama 2 hari (31 Juli – 1 Agustus) untuk memilih pengurus LPJKN periode 2007 – 2011.
Djoko menuturkan, peranan lembaga sangat penting, untuk itu LPJK harus fokus dengan langkah yang diambilnya. Menurutnya, pasar konstruksi dalam negeri harus terus tumbuh, maka peran kontraktor semakin tinggi. Untuk itu pemerintah berharap agar kontraktor lokal tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tambahnya. Ditegaskan, semakin besarnya nilai anggaran pemerintah menuntut kemampaun yang cukup dari kontraktor lokal. ”Mampukah kita tender dengan cara good coporate goverment, melakukan pembangunan dengan baik.Ini tantangan kita,” tegasnya.
Terkait dengan tugas LPJK kedepan, Menteri PU meminta agar para peserta Munas dapat memilih pengurus lembaga yang berdedikasi tinggi dan bekerja secara profesional. Sejalan dengna itu Menteri PU berpesan agar dengan iklhlas mengesampingkan kepentingan individu, kelompok demi kemajuan dunia konstruksi mendatang. Semoga saja dari kepengurusan yang baru nanti nantinya tercipta kontraktor handal yang mampu bersaing dengan kontraktor asing dan merebut pasar manca negara.
”Saya optimis bila yang hadir disini mengikuti hati nurani maka hasil terbaik akan diraih,” tegas Djoko Kirmanto.
Sementara itu Ketua LPJK Sulistijo Sidhartomulio menilai Munas merupakan sarana penting untuk menetapkan kebijakan umum, program kerja dan pengurus Dewan periode mendatang. Terkait dengan hal ini Sulistijo berharap pemerintah segera menyelesaikan PP 28, 29 dan 30 tahun 2005, mengingat PP tersebut menjadi rujukan pengembangan jasa konstruiksi nasional.
Menurutnya, ke depan pengembangan jasa konstruksi nasional akan menghadapi permasalahan dan tantangan yang semakin berat. Pasalnya, permasalahan pengembangan jasa konstruksi nasional tidak hanya terkait dengan sisi faktor supply jasa konstruksi seperti kompetensi SDM konstruksi. Melainkan terkait juga dengan pengembangan teknologi, perkuatan permodalan, pemutakhiran model bisnis, juga faktor demand jasa konstruksi misalnya quality assurance yang diminta pasar.
Tantangan lain, ucap Sulistijo selain terkait dengan kompetisi seperti GATS-WTO DAN AFAS ASEAN pengembangan jasa konstruksi juga diarahkan sebagai pendorong kemadirian dan kesejahteraan bangsa. ”Kami ingin peran dan fungsi lembaga menciptakan kompetisi tinggi yang memiliki daya saing kuat. Sehingga cita-cita jasa konstruksi nasional yang kokoh, handal dan berdaya saing dapat terwujud dalam bingkai ”good construction govenace,” tegasnya.
Dep PU