sempat bergeser dari format asal, pada tahun ini PT Makro Indonesia melakukan reposisi guna memantapkan sebagai pusat perkulakan (wholesale center) di industri perdagangan pasar modern.
Kalau dalam tiga atau empat tahun ke belakang, 52 persen pasar yang dibidik hipermarket tersebut adalah penjualan ritel segmen untuk kalangan keluarga, ke depan Makro fokus sebagai pusat perkulakan bagi pedagang mikro tradisional.
Senior Marketing Manager Makro Indonesia Angeline Wijaya mengakui, sejak dua tahun terakhir pihak manajemen Makro sebenarnya dalam kebingungan. Format asal Makro memang sebagai tempat perkulakan.
“Jadi barang apapun juga dijual di Makro seperti di departement store lainnya, seperti boneka dan lainnya. Sekarang Makro kembali mereposisi fungsinya sebagai pusat perkulakan. Artinya, barang yang dijual di Makro sekarang adalah untuk para
pedagang kecil atau reseller,” katanya kepada wartawan, di Makro Jalan By Pass Soekarno Hatta, Bandung, Jakarta, Jumat (24/8/2007).
Dia menerangkan, jumlah barang yang dijual tidak dalam bentuk ritel atau yang tidak untuk dikonsumsi langsung. Melainkan dalam jumlah besar, karena memang untuk para pedagang lagi.
Dijelaskannya, ada tiga kategori konsumen Makro, yaitu Costumer retail (pelanggan) pemilik kartu anggota Makro sekitar 25 persen, kalangan Horeca (hotel, restoran, dan cafe) 8 persen, service (kantor, sekolah dll) 15 persen, dan lainnya (ibu rumah tangga/keluarga) 52 persen.
“Namun kontribusi terbesar dari kalangan costumer retail mencapai 52 persen, konsumen kalangan keluarga 27 persen, diikuti Horeca 15 persen, dan konsumen dari kantoran (service) 10 persen. Ke depan, kita ingin mengubah persentase yang lebih seimbang,” ungkapnya.
Melalui moto baru “Makro Tempat Uang Mencari Uang” kata Angeline lagi, pada tahun 2010 nanti, target persentase semua jenis konsumen Makro, yakni kalangan costumer retail 30 persen, Horeca 30 persen, service 25 persen, dan kalangan keluarga 15 persen.
“Karena kami tidak hanya menjual barang ke pedagang, tapi dengan moto itu kami juga akan memberikan ide-ide bisnis bagaimana pelanggan Makro bisa menjadi wirausaha yang sukses,” ungkapnya.
Dia menambahkan, keberadaan Makro di Jawa Barat ada di 13 kota dengan 16 store. Potensi kontribusi Kota Bandung yang memiliki 1 store cukup besar. Rata-rata terjadi transaksi 1.200 invoice (item)/hari dengan nilai tidak kurang Rp600.000 per troley yang dibeli konsumen.
Sementara General Manager Store Makro Bandung, Ignatius Hermawan menambahkan, jumlah anggota Makro yang teregistrasi sampai Juli 2007 ada 43 ribu anggota dan yang terpantau aktif sekitar 12.700 anggota.
“Kami mengakui, sejak beberapa tahun ke belakang memang terjadi penurunan jumlah anggota. Namun jumlah 43 ribu member itu sudah terhitung naik sekitar 60 persen dari Juli 2006-Juli 2007,” jelasnya.
Namun Ignatius yakin, melalui visi dan misi baru dari Makro denggan berbagai program menarik untuk konsumen tetap akan memperkokoh posisi Makro sebagai pusat perkulakan terbesar.
“Kemasan baru Makro ini mulai terasa sejak Mei lalu. Target penjualan setiap pelanggan (pedagang) sekali berbelanja di Makro Rp1,5 juta juga sudah terlihat di Bandung,” paparnya.
Hanya kata dia lagi, keberadaan Makro bukan pesaing bagi pasar modern lainnya, karena segmen konsumen yang
dibidik Makro adalah pedagang mikro tradsional dan tidak melayani penjualan ritel.
Okezone