Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) memprediksi konsumsi gas domestik pada periode 2007 hingga 2010 akan tumbuh rata-rata 5,3% per tahun.
Tingkat pertumbuhan pada periode tersebut lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan konsumsi gas hingga 2020 sebesar 3,5% per tahun. ”Kenaikan konsumsi ini disebabkan harga bahan bakar minyak yang mahal karena subsidinya terus dikurangi, ” papar Kepala Dinas Pengembangan Pasar Minyak dan Gas Bumi BP Migas Fathor Rahman di Jakarta,kemarin. Dia menjelaskan, konsumsi gas tetap tinggi lantaran konsumsi gas untuk listrik meningkat tajam pada periode 2006- –2010, untuk mengatasi kekurangan listrik dan mendorong subtitusi BBM ke gas.
Selain itu, kebutuhan gas untuk industri pun naik dari 1,1 miliar kaki kubik per hari (cubic feet per day/- CFD) menjadi 2,7 miliar CFD. Meski terjadi peningkatan lebih tinggi dari biasanya, Fathor yakin kebutuhan itu akan dapat dipenuhi. Sebab, jelas dia, melalui pengelolaan gas saat ini yang tidak lagi bertumpu pada satu badan usaha, pertumbuhan pasokan diperkirakan mencukupi. Fathor memaparkan, ada sejumlah potensi pasokan gas yang akan didapat pada 2010–2020. Menurut dia,ada enam lapangan gas yang memiliki cadangan relatif besar, yaitu di Selat Makassar (laut dalam),Tangguh Papua, Cepu, Masela, Suban 3, serta Natuna D-Alpha.
Namun, beberapa cadangan itu memerlukan investasi yang relatif tinggi dan lokasinya jauh dari pusat permintaan. ”Konsekuensinya, harga gas di sisi pemakai akhir akan naik,”tuturnya. Direktur Center for Petroleum and Energy Economics Studies (CPEES) Kurtubi berpendapat sebaliknya. Menurut dia, kenaikan konsumsi gas domestik sebesar 5,3% itu sulit dipenuhi selama pengelolaan sektor migas Indonesia belum diperbaiki. ”Pemerintah tidak akan sanggup. Selama manajemen migas belum diperbaiki, kebutuhan itu sulit dipenuhi,” tegas Kurtubi kemarin. Kurtubi menjelaskan, saat ini saja banyak industri dalam negeri seperti pabrik pupuk, semen, dan keramik yang tutup dipicu oleh kesalahan dalam pengelolaan gas dalam negeri.Kebutuhan gas domestik, kata dia, cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
Sementara itu, lanjut dia,pemerintah melalui BP Migas tetap menjual gas ke luar negeri, bahkan dengan harga yang sangat murah. Dia mencontohkan gas dari proyek Tangguh Papua yang dijual ke China dengan harga USD3,5 per juta british thermal unit (BTU). ”Ini kan sangat merugikan negara,”tandasnya. Karena itu, Kurtubi meminta manajemen migas segera diperbaiki untuk dapat mengantisipasi kebutuhan energi di masa mendatang. Pemerintah, kata dia,perlu segera mengkaji kebijakannya di bidang ini.