Buletin Bisnis

BRI Penyalur Terbesar Kredit Pangan dan Energi

Agustus 8, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

BRI Penyalur Terbesar Kredit Pangan dan Energi

Dalam semester pertama 2008, PT BRI Tbk (Bank Rakyat Indonesia) telah menyalurkan kredit pangan dan energi sebesar Rp 815 miliar.

Ini merupakan jumlah terbesar yang disalurkan oleh bank untuk kredit pangan dan energi, saat ini ada 20 bank yang yang menjadi pelaksana penyaluran kredit jenis ini.

Ke-20 bank penyalur di bagi dalam 3 kategori yakni bank yang dikendalikan pemerintah seperti BNI, BRI, Mandiri, bank yang dikendalikan swasta seperti BCA, Agroniaga, BII, Niaga dan Danamon. Serta kelompok yang dikategorikan dalam Bank Pembangunan Daerah.

Mat Syukur Direktur Jenderal Tanaman Pangan Departemen Pertanian (08/07) mengungkapkan sampai akhir Juli 2008, KPE yang tersalur sebesar Rp 6.299 triliun.

Menurut Mat Syukur, tingginya minat pengusaha untuk menggunakan kredit jenis ini disebabkan oleh karena pemerintah memberikan subsidi bunga, disaat ini tingkat bunga pinjaman sedang tinggi sebagai dampak dinaikkannya Tingkat suku bunga BI.

Selain itu, persyaratan untuk memperoleh kredit tidak berbeda dengan kredit komersial sehingga para pengusaha perkebunan, peternakan dan pertanian semakin tertarik pada jenis kredit ini.

Untuk bunga Kredit Pangan dan Energi, Pemerintah bersama bank penyalur setiap enam bulan meninjau besarannya. untuk tahun 2008, besaran bunga selanjutnya akan ditetapkan Bulan Oktober.

Kategori: Keuangan & Perbankan

Para Perawat dari Indonesia telah Tiba

Agustus 8, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pendatang baru ingin memberikan bantuan perawatan tapi masalah bahasa dan halangan lainnya akan menunda kontribusi untuk sementara

Tri Yulianti, 23 tahun, telah bekerja sebagai perawat di Jakarta untuk dua tahun dan berharap untuk membantu perawatan para lanjut usia (lansia) orang Jepang mulai awal tahun depan.

Tri adalah bagian dari kelompok pertama yang berjumlah 208 orang perawat dan pengasuh lanjut usia yang tiba hari Kamis (08/07) di Bandar Udara Internasional Narita untuk bekerja di Jepang dibawah perjanjian kemitraan ekonomi Indonesia-Jepang yang berlaku sejak 1 juli 2008.

Menurut Tri, ia sangat tertarik untuk bekerja di Jepang karena negara ini memiliki budaya, teknologi dan orang-orang yang baik, selain itu saya juga punya saudara perempuan yang tinggal di Jepang sehingga saya merasa nyaman untuk tinggal di Jepang.

Kedatangan perawat dan pengasuh lansia dari Indonesia adalah yang pertama kalinya diizinkan untuk bekerja di rumah sakit dan rumah perawatan orang tua karena bantuan mereka memang sangat diperlukan.

Fasilitas perawatan yang ada di Jepang dalam beberapa tahun terakhir mengalami kekurangan pekerja yang sangat akut dan diperburuk oleh pesatnya pertumbuhan populasi orang tua.

Saat ini, Jepang sedang mempersiapkan peraturan serupa dengan negara tetangga lainnya termasuk Philippina.

Kelompok yang datang dari Indonesia terdiri dari 104 orang perawat dan 104 orang pengasuh lansia, dengan jumlah wanita sebanyak 60 persen dari toral keseluruhan kelompok.

Selanjutnya para calon perawat dan pengasuh lansia dari Indonesia ini akan menjalankan pelatihan bahasa Jepang dan berbagai program pelatihan lainnya di berbagai lembaga yang berafiliasi dengan pemerintah di seluruh Jepang selama 6 bulan dan akan mulai bekerja pada bulan Januari atau Februari 2009 di sekitar 100 lembaga.

Berdasarkan Kesepakatan Kemitraan Ekonomi (EPA), mereka akan diperbolehkan untuk menetap selama tiga sampai empat tahun tapi bila mereka ingin tinggal lebih lama, mereka harus lulus ujian kualifikasi nasional, yang deadlinenya bagi perawat selama tiga tahun sedangkan bagi pengasuh lansia empat tahun.

Rencananya, Jepang akan menerima 400 orang perawat dan 600 orang pengasuh lansia dalam dua tahun. setengahnya akan diberangkatkan pada tahun pertama tapi karena kendala singkatnya waktu pendaftaran dan faktor lainnya sehingga targetnya hanya terpenuhi setengahnya.

Beberapa ahli sangat cemas pada kesinambungan program karena perawat dan pengasuh lansia hanya diberikan waktu enam bulan untuk mempelajari kemampuan berbahasa dan akan mendapat tekanan yang berat untuk menempuh ujian kualifikasi nasional dalam waktu tiga sampai empat tahun.

Sementara negara maju lainnya juga mencoba mendapatkan perawat.

Ariani Setyaningsih, perawat senior di Jakarta, mengungkapkan kekhawatirannya mengenai perbedaan bahasa, agama dan budaya yang akan dihadapinya di Jepang.

Menurutnya, belajar bahasa baru merupakan tantangan yang besar.

Naydial Mscplt, penasehat senior pada kementrian Kesehatan di Jakarta, menjelaskan para perawat tidak akan menghadapi masalah karena mereka akan belajar bahasa, gaya hidup dan berbagai hal terkait Jepang lainnya selama pelatihan.

Menurut Naydial, ini merupakan ujian bagi mereka apakah mereka dapat memperbaiki kualitas perawat Indonesia dan diharapkan bila mereka kembali ke Indonesia mereka juga menerapkan keahlian yang telah mereka dapatkan di Jepang.

Kategori: Berita Utama (1)