Investor Migas di Wilayah Timur Bebas Ngebor 3 Tahun Pertama

Investor Migas di Wilayah Timur Bebas Ngebor 3 Tahun Pertama

Direktur Pembinaan Usaha Hulu Departemen ESDM R Priyono, Jumat (28/12) menjelaskan pengembang lapangan migas di Indonesia bagian Timur akan dibebaskan dari kewajiban pengeboran dalam tiga tahun pertama untuk mendorong investor mengembangkan potensi di sana.
 
Menurut Priyono, lapangan migas yang ada di Indonesia bagian Barat sudah tergolong tua sehingga potensinya menurun.

Dalam aturan plan of development (PoD) sebelumnya kontraktor harus melakukan pengeboran dalam tiga tahun pertama, kini kontraktor hanya perlu melakukan studi seismik.
 
Selain bebas kewajiban mengebor, bagi hasil yang ditawarkan juga berbeda. Untuk minyak mencapai 35 persen untuk kontraktor dan untuk gas mencapai 40 persen.
 
Pemberlakuan kebijakan akan diterapkan pada pemenang tender blok migas mendatang.

Penerimaan Negara dari Migas dan Tambang Rp 208 Triliun

Penerimaan Negara dari Migas dan Tambang Rp 208 Triliun

Realisasi penerimaan dari sektor migas dan pertambangan tahun 2007 diperkirakan mencapai Rp 208 triliun, melebihi target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) yang sebesar Rp 182 triliun.

Berdasarkan laporan akhir tahun Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) yang dirilis, Jumat (28/12) mengungkapkan penerimaan negara dari sektor migas tahun 2007 mencapai Rp 174,486 triliun, pertambangan umum Rp 32,3 triliun dan lain-lain Rp 1,3 triliun.

Sedangkan Investasi di sektor ESDM tahun 2007 sebanyak Rp 14,754 triliun, terdiri atas investasi bidang migas Rp 10,083 triliun, ketenagalistrikan Rp 3,32 triliun dan mineral batu bara dan panas bumi Rp 1,351 triliun.

Untuk tahun 2008, DESDM menargetkan penerimaan di sektor migas sebesar Rp 199 triliun dan investasi menjadi Rp 21 triliun.

Pembatasan Premium Ditunda Sementara

Pembatasan Premium Ditunda Sementara

Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Kamis (27/12) menyatakan, pembatasan penggunaan premium untuk kendaraan pribadi ditunda, karena kondisi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) saat ini lebih baik dari perkiraan awal November 2007.

Menurut Purnomo, salah satu yang menarik dari laporan tim ekonomi pada awal November struktur pendapatan dalam APBN meningkat karena ada kenaikan harga minyak dan ekspenditurnya juga meningkat. Tapi, sekarang ekspenditurnya tidak meningkat seperti waktu penghitungan.

Jadi laporan yang diberikan ke Menkeu defisitnya lebih rendah dari yang diperkirakan. Kalau defisit rendah salah satu penyebabnya karena pendapatan meningkat lebih tinggi dari pengeluaran atau pendapatan meningkat dan pengeluarannya juga meningkat.

Pertamina Ubah Produksi Minyak Tanah Jadi Avtur

Pertamina Ubah Produksi Minyak Tanah Jadi Avtur

Mengantisipasi kelebihan produksi minyak tanah, PT Pertamina akan mengalihkan produksi  minyak tanah di tiga kilang menjadi avtur mulai tahun 2008.

Kepala Divisi BBM PT Pertamina Djaelani Sutomo, Kamis (27/12) mengemukakan volume minyak tanah yang akan dialihkan sebanyak 500.000 kiloliter dan akan diolah di kilang Cilacap, Balikpapan dan Dumai.

Sesuai dengan program konversi, untuk tahun 2008 pemerintah akan mengalihkan 2 juta kiloliter minyak tanah ke gas elpiji dan dampaknya menyebabkan kelebihan produksi minyak tanah di kilang dalam negeri.

Menurut Djaelani, Pertamina berencana mengekspor kelebihan produksi avtur ke Singapura.

Saat ini, Harga avtur di pasar internasional mencapai 112 dollar AS per barrel.

Pertamina Distributor Resmi BBM Bersubsidi

Pertamina Distributor Resmi BBM Bersubsidi

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Rabu (26/12) resmi menunjuk PT Pertamina (Persero) sebagai satu-satunya perusahaan yang menyediakan dan mendistribusikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi selama 2008.

Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Tubagus Haryono mengatakan keputusan diambil karena dari hasil evaluasi, hanya Pertamina yang siap dan memenuhi kriteria BPH Migas sebagai penyedia dan pendistribusi BBM bersubsidi.
    
Berdasarkan Perpres 71 Tahun 2005 tentang Penyediaan dan Pendistribusian Jenis BBM Tertentu, penyediaan BBM bersubsidi dilakukan melalui dua cara yakni lelang atau penunjukkan langsung. Untuk lelang, BPH Migas mensyaratkan penyedia BBM bersubsidi harus mempunyai atau menguasai jaringan penyediaan dan pendistribusian minimal di dua wilayah distribusi niaga (WDN).

APBN tahun 2008 telah menetapkan besaran alpha atau biaya distribusi ditambah keuntungan bagi perusahaan yang menyediakan dan mendistribusikan BBM bersubsidi sebesar 13,5 persen. Angka alpha tahun 2007, turun dibandingkan tahun 2006 yang mencapai 14,1 persen.
    
Sesuai APBN 2008, volume BBM bersubsidi ditetapkan 35,87 juta kiloliter yang terdiri dari premium 16,95 juta kiloliter, minyak tanah 7,87 juta kiloliter, dan solar 11 juta kiloliter dengan nilai subsidi Rp42,1 triliun.

Pengusaha Batu Bara Usulkan DMO

Pengusaha Batu Bara Usulkan DMO

Pengusaha batu bara anggota Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) mengusulkan mekanisme kewajiban pasok dalam negeri (domestic market obligation/DMO).

Ketua Umum APBI Jeffrey Mulyono, Selasa (25/12) mengungkapkan usulan mekanisme DMO dibuat berdasarkan persentase perbandingan antara kebutuhan dan total produksi batubara nasional setiap tahunnya.

Menurut Jeffrey, kalau tahun 2005 kebutuhan batu bara domestik sebesar 39,5 juta ton dan produksi nasional 153,4 juta ton, maka besar persentasenya adalah 25,75 persen.

Dengan adanya basis persentase, maka kewajiban DMO masing-masing perusahaan akan dihitung dari tingkat produksinya dan dikalikan besaran persentase.

Jeffrey mencontohkan, PT Kaltim Prima Coal (KPC) dengan hasil produksi tahun 2005 tercatat 27,65 juta ton, maka kewajiban DMOtahun 2005 sebesar 7,12 juta ton.

Kewajiban DMO merupakan amanat UU No 30 Tahun 2007 tentang Energi. dalam Pasal 5 UU disebutkan, untuk menjamin ketahanan energi nasional, pemerintah wajib menyediakan cadangan penyangga energi. dan untuk itu, diatur ketentuan mengenai jenis, jumlah, waktu, dan lokasi cadangan penyangga energi ditetapkan Dewan Energi Nasional.

Pada 2007, produksi batu bara Indonesia diperkirakan sebanyak 215 juta ton, dan 52 juta ton untuk konsumsi dalam negeri, atau  persentase DMO-nya sebesar 24,19%.

Sedang, untuk 2008, dengan perkiraan produksi 234 juta ton dan 55 juta ton di antaranya kemungkinan terserap di dalam negeri, maka angka DMO-nya adalah 23,5%.

Saat ini, tercatat 164 perusahaan tambang batu bara sudah berproduksi di Indonesia, terdiri 34 perusahaan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B), 129 pemegang Kuasa Pertambangan (KP) dan satu BUMN yakni PT Tambang Batubara

Bukit Asam (BA).

Pertamina Impor Tabung Elpiji dari Thailand Awal Januari 2008

Pertamina Impor Tabung Elpiji dari Thailand Awal Januari 2008

PT Pertamina akan memulai impor 2 juta unit tabung elpiji tiga kg dari Thailand pada awal Januari 2008 hingga Februari 2008.

Kepala Divisi Komunikasi Pertamina Wisnuntoro, Senin (24/12) mengatakan, Pertamina mengimpor tabung untuk memenuhi kekurangan kebutuhan konversi minyak tanah ke elpiji tahun 2007 sebesar 4,2 juta unit.

Dari kebutuhan tabung tahun 2007 sekitar 10,2 juta unit, produsen dalam negeri hanya mampu memproduksi sekitar enam juta unit.

Pada tahun 2008, kebutuhan tabung mencapai 23 juta unit. Pertamina sudah menenderkan delapan juta unit tabung elpiji untuk memenuhi kebutuhan program konversi periode Januari-Juni 2008.

Sisanya, sebanyak 15 juta unit tabung akan ditenderkan pada Maret 2008.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.