Pemerintah Gunakan Kontrak Baru Tender 25 WK

Pemerintah akan menggunakan kontrak baru pada tender 25 wilayah kerja (WK/blok) minyak dan gas bumi (migas) yang akan dilaksanakan Agustus ini.Salah satu yang akan diaplikasikan dalam kontrak baru, penyempurnaan biaya eksplorasi dan eksploitasi (produksi) yang dikembalikan negara ke Kontraktor Kontrak Kerjas Sama (KKKS) atau cost recovery .

“Sistem cost recovery yang ditinjau kembali ini akan benar-benar mencerminkan bagi hasil. Karena cost recovery itu sendiri ada di dalam kontrak bagi hasil. Jadi, titik beratnya bukan pada pengembalian cost, tetapi pada bagi hasilnya,” kata Direktur Pembinaan Hulu Migas Ditjen Migas Departemen ESDM R Priyono, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Isi kontrak migas pada tender 25 WK nanti akan disusun sedemikian rupa untuk menjawab masalah-masalah yang timbul di lapangan. Dengan begitu nantinya, kontrak baru selain berisi penyempurnaan cost recovery, juga akan memuat masukan-masukan dari para stake holder migas.

“Kami masih harus ketemu para stake holder untuk membicarakan isi kontrak baru ini,” ujarnya.

Meski pihak Ditjen Migas, seperti dikatakan Priyono, masih dalam tahap penyusunan perubahan-perubahan kontrak migas, namun hal itu tidak akan memundurkan jadwal tender.

“Meski isi kontrak belum selesai disusun, kami usahakan agar tender bisa berlangsung Agustus ini,” tegasnya.

Pernyataan Priyono itu mendapat pembenaran dari Sekjen Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Waryono Karno. Ia mengatakan, tidak akan ada perubahan dari rencana semula.

“Tender 25 WK tetap Agustus ini,” ujar Waryono, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menyangkut pembenahan cost recovery secara umum, Priyono mengatakan, pihaknya juga masih dalam tahap pengkajian untuk menyempurnakan sistem cost recovery.

“Nanti dibuat satu sistem, kedua pihak yang melakukan kontrak (Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan gas Bumi/BP Migas dan KKKS), bisa efektif untuk saling mengawasi,” paparnya.

Berdasarkan penilaian Ditjen Migas Departemen ESDM penekanan cost recovery bisa dilaksanakan lebih efektif jika BP Migas dan KKKS sama-sama melakukan pengawasan.

Priyono memaparkan, kontrak baru nanti memungkinkan KKKS melakukan juga pengawasan atas cost recovery. Pada dasarnya KKKS tidak mau biaya eksplorasi dan eksploitasi migas tinggi karena akan mengurangi porsi bagi hasil yang diterimanya.

Apalagi, ada tekanan kepada KKKS untuk melakukan efisiensi. KKKS bisa memanfaatkan internal auditor untuk melaksanakan pengawasan penekanan cost recovery.

“Jadi, Perusahaan yang bersangkutan harus benar-benar melaksanakan efisiensi,” ujarnya.

Tekan cost

Sebelumnya, Menteri ESDM Purnomon Yusgiantoro mengatakan revisi kontrak terkait keinginan beberapa kalangan untuk menekan cost recovery tidak mungkin dilakukan pada kontrak yang sudah ditandatangani. Prinsip pemerintah adalah menghormati kontrak yang telah ditandatangani pemerintah. Revisi kontrak hanya dimungkinkan pada kontrak baru yang akan ditandatangani oleh pemerintah.

“Kontrak adalah kontrak dan kita hormati itu,” katanya.

Untuk kontrak lama, kata Purnomo, pemerintah akan memberikan insentif KKKS yang berhasil menekan jumlah cost recovery. Langkah ini diambil guna menekan cost recovery yang beberapa tahun belakangan terus meningkat.

“Kami akan keluarkan insentif sebagai upaya pengendalian cost recovery,” ujar Purnomo.

Purnomo mengatakan, berdasarkan hasil seminar cost recovery, Kamis (2/8), pihaknya sudah mendapatkan masukan stake holder. Pemerintah tengah merumuskan masukan tersebut dan hasilnya akan diumumkan dalam waktu dekat.

Purnomo berjanji, dalam mengambil kebijakan cost recovery, pihaknya tidak akan merugikan investor. Departemen ESDM juga akan memberikan prioritas memenuhi kepentingan negara. Purnomo memaparkan, BP Migas akan lebih meningkatkan perannya dalam

pengawasan.

“Kontrak masih tetap dihormati. Kami hanya akan lihat apakah cost recovery ini sudah masuk exhibit C (lampiran C) kontrak atau tidak,” tuturnya.

Media Indonesia

Pertamina Gandeng Mitsui Kembangkan Biofuel

Perusahaan minyak dan gas asal Jepang, Mitsui Corp menggandeng PT Pertamina (Persero) untuk mengembangkan bahan bakar nabati (BBN/biofuel). Hal itu diungkapkan Dirut Pertamina Ari Hernanto Soemarno di Jakarta, Senin (13/8).”Mitsui dan Pertamina sedang dalam tahap pengkajian bersama saat ini,” kata Ari seusai menghadap Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro di kantor ESDM.

Namun, Ari menolak menyebut BBN yang akan dikembangkan. Ia hanya menyebut dalam kemitraan ini, BUMN minyak itu hanya menyediakan fasilitas biofuelnya. “Kalau masalah hulu atau perkebunan tidak masuk,” ujar Ari.

Sebelumnya, perusahaan minyak dan gas Korea, SK Corp juga menyatakan ketertarikannya untuk menggandeng PT Pertamina (Persero) dalam mengembangkan BBN.

“SK Corp serius sekali mengajak PT Pertamina. Kita sama-sama sedang mengkaji aspek ekonomis dari pengembangan biofuel Indonesia,” kata Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Achmad Faisal.

Ia menjelaskan, kajian akan dilakukan untuk BBN dari jenis jarak pagar (jatropha), kelapa sawit, dan singkong. Lokasi pengembangan BBN juga akan masuk dalam kajian. “Kita belum tentukan lokasinya,” ujarnya.

Sementara Deputi Direktur Pemasaran Pertamina Hanung Budya, mengatakan pihaknya akan melihat perkembangan kebijakan BBN nasional terlebih dahulu sebelum memutuskan menerima ajakan SK. Selama ini, Pertamina hanya menjual BBN di Jawa, khususnya di Jakarta. “Pertamina jualan ini juga untungnya kurang,” paparnya.

Soal peluang pasar ekspor, kata Hanung, Pertamina belum memiliki kebijakan ekspor BBN. Pengembangan BBN oleh Pertamina lebih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. “Untuk memastikan komponen biofuel untuk jualan Pertamina sendiri,” terangnya.

Menurut Hanung, kebijakan ekspor BBN hanya akan dilakukan pada kondisi tertentu yaitu jika produksi BBN Pertamina melebihi kebutuhan dalam negeri. “Kalaupun nanti tersisa kita ekspor, itu sebagai alternatif penyelesaian masalah, sampai sekarang Pertamina belum bikin kebijakan bikin pabrik BBN untuk diekspor,” tegasnya.

Secara prinsip, kata Hanung, kebijakan Pertamina dalam pengembangan BBN adalah membangun pabrik. Sementara, untuk pembukaan lahan, BUMN minyak itu mengaku belum tertarik. Sebab, pengolahan lahan BBN bukan termasuk dalam bisnis inti Pertamina. Jika masuk ke pengolahan lahan, BUMN migas dinilai tidak bisa fokus lagi seperti pada era tahun 1970-an.

“Kalaupun ada program BBN kita beli saja fame-nya. Biar PTPN yang nanam sawit, kita yang beli hasilnya,” imbuhnya.

Media Indonesia

Meriahkan Kemerdekaan, Harga Pertamax Turun

PT Pertamina (Persero) terhitung mulai pukul 00.00, Kamis (16/8), akan menurunkan harga Pertamax dan Bio Pertamax sebesar Rp62 di seluruh wilayah pemasaran untuk memeriahkan perayaan Kemerdekaan RI ke-62.Vice President Komunikasi Pertamina, Adiatma Sardjito mengatakan penurunan harga tersebut merujuk pada Surat Keputusan Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (Persero) No Kpts ・634/F00000/2007-S0 tentang Harga Jual Pertamax dan Bio-Pertamax tertanggal 13 Agustus ini.

“Surat Keputusan Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina menetapkan bahwa dalam rangka hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-62, harga jual BBK mengalami penurunan sebesar Rp62 di seluruh wilayah pemasaran,” kata Adit dalam siaran persnya yang diterima Media Indonesia, Senin (13/8).

Sehingga, dengan demikian, jika sebelumnya di wilayah Unit Pemasaran (UPms) III Pertamina yang meliputi DKI Jakarta, Jabar, dan Banten, harga Pertamax dan Bio Pertamax sebesar Rp6.400, maka per 17 Agustus mendatang harganya menjadi Rp6.338.

Sementara untuk UPms I, Pertamax yang sebelumnya berharga Rp7.000 menjadi Rp6.938. Untuk UPms II, harga Pertamax yang semula Rp6.600 menjadi Rp6.538, di SPBU Bersaing harga Pertamax yang tadinya sebesar Rp6.300 menjadi Rp6.238, di UPms IV dan V, harga Pertamax dari Rp6.600 menjadi Rp6.538 dan harga Bio Pertamax dari Rp6.600 menjadi Rp6.538, di Bali harga Pertamax yang semula Rp7.000 menjadi Rp6.938.

Sementara di UPms VI, harga Pertamax dari Rp6.500 menjadi Rp6.438, untuk UPms VII, harga Pertamax dari Rp6.650, turun menjadi Rp6.588.

Media Indonesia

Areva Sukses Akuisisi UraMin

Sebagai perusahaan dengan bisnis inti layanan jasa energi nuklir terintegrasi,Areva Group harus memiliki cadangan uranium yang cukup. Areva membutuhkan keamanan energi primer.

BULAN ini, Areva sukses menyelesaikan akuisisi perusahaan pertambangan uranium asal Kanada UraMin Inc. Areva membeli 100% saham UraMin senilai USD2,5 miliar dalam bentuk tunai. Nilai akuisisi itu setara dengan USD7,75 per saham UraMin.Akuisisi ini dilaksanakan melalui anak perusahaan CFMM Development.

Saat ini,Areva baru mendapatkan 93% saham UraMin. Dengan akuisisi itu, saham Ura- Min di bursa Toronto (Toronto Stock Exchange/TSE) akan dilepas (delisting). Areva mendapatkan Ura- Min setelah mengalahkan tawaran dari beberapa perusahaan tambang terkemuka di dunia. Sebelumnya, BHP Billiton, Anglo American dan Rio Tinto, China National Nuclear Corp serta Uranium One ikut menjadi penawar potensial. Ketiga rival Areva adalah pemain perusahaan tambang yang sudah menggarap cadangan uranium di Afrika.

Areva sempat mengkhawatirkan pesaingnya karena Chief Executive UraMin Ian Stalker pernah mengatakan pihaknya terbuka terhadap penawaran yang lebih tinggi. Areva menilai, masuknya UraMin akan meningkatkan aktivitas pertambangan uranium sehingga perusahaan bisa mengembangkan diri secara maksimal. Saat ini, UraMin sedang fokus mengembangkan proyek eksplorasi Trekkopje di Namibia, Bokuma di Republik Afrika Tengah,dan proyek Ryst Kuil di Afrika Selatan.

UraMin juga memiliki beberapa proyek eksplorasi di Afrika seperti Chad, Niger, Senegal, Mozambik, dan Bakouma. Selain itu ada juga di Kanada seperti proyek Readi Aberta dan proyek Labrador di Quebec.Total cadangan uranium teridentifikasi milik UraMin di Afrika Selatan,Namibia,dan Republik Afrika Tengah sangat tinggi. Produksi per tahun diperkirakan mencapai 7.000 ton pada 2012.

Areva berharap bisa meningkatkan pangsa pasar uranium yang sudah dikuasainya. Saat ini, Areva menguasai 23% pangsa pasar uranium di dunia. Menurut Senior Vice President Ux Consulting Company, tingginya penawaran Areva sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga uranium dunia.Melalui akuisisi tersebut, Areva bisa meningkatkan produksi beberapa kali lipat.

Dalam perencanaan Areva sebelum akuisisi UraMin,perusahaan energi alternatif Prancis tersebut menargetkan peningkatan produksi sebanyak dua kali. Akibat penjualan UraMin, harga uranium terus meningkat. Pada awal 2001 harga uranium hanya USD36,25 per pon kemudian meningkat menjadi USD72 per pon pada awal 2006. Awal Juli 2007, harga ura-nium naik menjadi USD135 per pon. Peningkatan tertinggi sebanyak 11% terjadi pada saat akuisisi UraMin pada 2 Agustus 2007.

Saat ini,Areva memproduksi uranium sebanyak 6.000 ton per tahun pada 2006. Diprediksi, tahun 2011-2012 produksi uranium Areva bisa mencapai 12.000 ton per tahun. Peningkatan tersebut bisa didapat hanya dengan meningkatkan produksi di pertambangan di Nigeria, Kanada, dan Kazakhstan. Jika ditambah dengan produksi UraMin. Produksi uranium Areva bisa meningkat satu kali lagi.Sebab,produksi uranium UraMin mencapai 7.000 ton per tahun.

Areva Group sadar bahwa untuk berkembang harus memiliki bisnis yang kuat di anak-anak perusahaan. Bisnis energi alternatif di dunia mengenal hukum harus bisa bersaing dengan energi minyak yang sudah cukup efisien. Areva harus bisa menawarkan energi alternatif yang paling efisien, teknologi terbaru, dan bisa menyediakannya dalam jangka panjang. Sebab, ini menjadi salah satu keunggulan.

Langkah yang ditempuh Areva adalah terus melakukan pembaharuan teknologi yang dimiliki dengan cara membeli, akuisisi, dan joint venture. Beberapa langkah yang harus ditempuh adalah terus memperbarui teknologi dan meningkatkan cadangan uranium. Agar bisa besar,Areva juga harus mempertahankan pasar yang sudah di tangan dan mencari pasar-pasar baru.

Langkah Areva memperkuat semua lini bisnis termasuk agresif. Saat ini,Areva memiliki empat lini bisnis.Rinciannya,Areva NP dengan bisnis pengembangan dan konstruksi reaktor nuklir, Areva NC dengan bisnis manajemen limbah nuklir,dan Areva TA dengan bisnis produksi dan perawatan reaktor nuklir untuk kapal angkatan Laut Prancis serta menyediakan jasa angkutan nuklir melalui udara.Terakhir, Areva T&D dengan bisnis transmisi dan distribusi listrik.

Bisnis nuklir sangat penting bagi Areva hingga membentuk tiga anak usaha untuk mengurusinya. Tahun 2007 ini, Areva telah melakukan beberapa kerja sama teknologi PLTN. Juli lalu, Areva joint venture dengan Urenco untuk meningkatkan teknologi pengayaan uranium. Areva setuju membeli 50% saham Urenco di Enrichment Technology Company (ETC). ETC adalah perusahaan desain dan pabrikan energi nuklir yang dimiliki perusahaan Jerman RWE dan E On,perusahaan Belanda Ultra Centrifuge Nederlan Ltd, dan perusahaan Inggris BNFL.

Chief Executive Areva Anne Luvergeon mengatakan, dengan akuisisi 50% saham ETC, Areva bisa meningkatkan teknologi PLTN miliknya, yaitu George Besse menjadi George Besse II. Ini bisa mengamankan komitmen jangka panjang Areva ke pelanggannya. Maret 2007, Global Nuclear Energy Partnership (GNEP) yang dibentuk oleh Areva bersama Washington Group International dan BWX Technology Inc menerima anggota baru, yaitu Japan Nuclear Fuel Ltd.Anggota baru ini diharapkan bisa meningkatkan tim industri PLTN untuk menghadapi peningkatan permintaan dari Departemen of Energy (DOE) Amerika Serikat.

Kehadiran Japan Nuclear diharapkan menambah kepakaran GNEP di bidang nuklir, khususnya dalam manajemen pengelolaan limbah nuklir di PLTN. Pengalaman GNF dalam mengelola PLTN Rokkasho di Jepang akan meningkatkan kemampuan Areva dalam mendesain,konstruksi, dan operasi pusat daur ulang energi nuklir. Ini menjadikan perseroan bisa memberikan pelayanan energi nuklir yang aman dan berkesinambungan. President Areva Inc untuk Maryland Michael McMurphy mengatakan, masuknya Jepang membuat anggota tim bisa menawarkan manajemen limbah nuklir yang lebih bertanggung jawab.

”Integrasi tim yang menawarkan pengalaman profesional,” tuturnya. Bulan April,Areva mempercepat kerja sama dengan Mitsubishi Heavy Industries Ltd (MHI) untuk pengiriman energi nuklir ke pelanggan. Kerja sama yang dilakukan untuk membuat konsep utama pengembangan reaktor nuklir di masa mendatang. Kedua perusahaan sepakat menyelesaikan konsep tersebut pada awal musim panas tahun ini.

Areva dan MHI sepakat mengembangkan generasi tiga reaktor air bertekanan tinggi dengan kapasitas 1.100 megawatt energi (MWE). Reaktor baru lebih aman untuk PLTN komersial, jumlah limbah lebih sedikit dan lebih efisien.Areva dan MHI menilai reaktor jenis ini lebih digemari konsumen di masa depan.

Seputar Indonesia

Pemerintah Desak Freeport Turunkan Produksi

Untuk memperbaiki kondisi lingkungan di lokasi tambangnya di Grassberg, Papua, pemerintah mendesak PT Freeport Indonesia menurunkan produksi bijihnya.Seperti dikatakan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, penurunan produksi tersebut merupakan rekomendasi hasil audit yang dilakukan pemerintah terhadap aktivitas tambang Freeport.

“Kami minta produksi Freeport diturunkan dari 300.000 ton bijih per hari menjadi 200.000-250.000 ton per hari,” kata Purnomo di Jakarta, Jumat (10/8).

Ia menjelaskan, jika Freeport tetap berproduksi dalam jumlah cukup besar seperti sekarang ini, maka dampak terhadap lingkungannya juga akan kian negatif.

Selain itu, lanjut Purnomo, hasil audit juga merekomendasikan agar pabrik pengolahan (smelter) hasil tambang Freeport di PT Smelting Company di Gresik ditingkatkan kapasitas produksinya sebesar 10%.

“Kami sudah bicara dengan pihak smelter di Gresik dan mereka bisa tingkatkan kapasitasnya hingga 10%,”

katanya.

Untuk smelting ini, Purnomo mengatakan, tidak bisa dinaikkan lagi kapasitasnya melebihi 10%, dengan pertimbangan sejumlah hal yang di antaranya adalah menyangkut keterbatasan lahan.

Sementara menyangkut audit lingkungan, Menteri ESDM menjelaskan, ada dua lokasi yang tidak memenuhi standar lingkungan yang baik berdasarkan hasil audit itu.

“Kami sudah minta laboratorium IPB melakukan studi dan sudah hampir selesai. Hasil studi akan digunakan memperbaiki dua lokasi tersebut,” katanya.

Audit Freeport terdiri dari lima hal, yaitu produksi, pengembangan masyarakat (community development/CD), pendapatan, lingkungan, dan keamanan.

“Dari hasil audit itu akan dijabarkan apa-apa yang perlu diperbaiki dan ditindaklanjuti. Sekarang sedang dibahas antara tim ESDM dan Freeport yang hasilnya sementara ini cukup baik,” katanya.

Divestasi

Sementara itu, menyangkut divestasi 9,36% saham Freeport, Purnomo menjelaskan, saat ini masih dalam proses penawaran ke Pemerintah Daerah Papua.

“Belum ada jawaban (dari Pemda Papua),” katanya.

Saat ini, komposisi pemegang saham Freeport adalah 9,36%dimiliki pemerintah dan 90,64% dikuasai Freeport McMoran Copper & Gold Inc.

Pada 2006, volume produksi bijih mineral Freeport naik menjadi 230.000 ton per hari dari tahun 2005 yang 215.000 ton per hari.

Dari produksi bijih itu hanya tiga persen yang berupa konsentrat, sedang 97% lainnya limbah (tailing).

Dalam bijih tersebut terkandung satu persen tembaga, satu gram/ton emas dan 2-3 gram/ton perak. Sementara, kandungan konsentratnya adalah 30% tembaga, 30 gram/ton emas dan 60-90 gram/ton perak.

Produksi konsentrat Freeport itu sebanyak 29% diolah Smelting Company dan sisanya diekspor ke sejumlah negara.

Adapun setoran pajak, royalti, dividen, dan iuran Freeport tahun 2005 ke negara tercatat mencapai US$1,2 miliar atau senilai Rp11 triliun. Sedangkan antara 1992-2004 yang sama dibayarkan Freeport ke negara mencapai US$3,9 miliar atau senilai Rp12,5 triliun.

Freeport memperoleh konsesi pertambangan sejak 1967 dan 1991 telah diperpanjang untuk 30 tahun ke depan. Perusahaan itu masih memiliki opsi perpanjangan dua

kali 10 tahun.

Apabila perpanjangan itu didapat seluruhnya, maka konsesi pertambangan Freeport baru berakhir 2041.

Media Indonesia

Penerimaan Pajak Non Migas Capai 51,04%

Dirjen Pajak Depkeu Darmin Nasution mengatakan penerimaan pajak non migas pada tujuh bulan pertama 2007 telah mencapai Rp200,710 triliun atau 51,04 persen dari target APBN Perubahan (APBNP) 2007 yaitu Rp395,249 triliun.”Jika ditotal dengan pendapatan PPh migas maka angka Rp224,569 triliun atau 52,16 persen dari APBNP telah dicapai,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (10/8).

Darmin mengatakan penerimaan pajak non migas tersebut tumbuh 21,18 persen dibanding periode yang sama tahun lalu Rp165,626 triliun (49,74 persen dari target APBNP 2006), sedangkan penerimaan pajak, termasuk migas, tumbuh 18,83 persen dibanding posisi Juli 2006 Rp188,977 triliun (50,84 persen dari target APBNP 2006).

“Jadi pencapaian penerimaan Ditjen Pajak tahun ini dibandingkan dengan APBNP-nya sudah lebih baik dibandingkan pencapaian tahun lalu,” katanya.

Menurutnya, penyumbang terbesar dalam capaian penerimaan itu adalah setoran Pajak Penghasilan (PPh), yang diikuti oleh Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

Ia menambahkan, pihaknya juga membayar restitusi pajak sebesar Rp18,476 triliun hingga Juli 2007, atau tumbuh 70,11 persen dari periode yang sama tahun lalu Rp10,861 triliun.

“Peningkatan pencairan restitusi tersebut disebabkan oleh penyelesaian tunggakan permohonan restitusi PPN tahun-tahun sebelumnya dan percepatan penyelesaian restitusi,” katanya.

Lebih lanjut Darmin menjelaskan, dari tunggakan restitusi PPN sekitar Rp11 triliun untuk periode 2001-2006, pihaknya hanya menyisakan kurang dari Rp1 triliun dalam periode satu tahun sejak Agustus 2006 hingga Juli 2007.

“Tunggakan restitusi yang belum diproses ada sekitar Rp600 miliar, sedangkan yang sudah diproses dan tinggal bayar hanya Rp200-300 miliar. Tahun ini saja kita selesaikan sekitar Rp7 triliun,” katanya.

Secara keseluruhan, tuturnya, pertumbuhan penerimaan hingga Juli 2007 sebesar 21,18 persen berada di atas rata-rata pertumbuhan penerimaan dalam 5 tahun terakhir sebesar 18,81 persen.

Media Indonesia

Pertamina akan Gaet Lukoil, Petrobras dan Shell

PT Pertamina EP akan menggandeng perusahaan minyak dan gas bumi (migas) asing untuk mengikuti tender penawaran 25 wilayah kerja (WK/blok) yang dilaksanakan pemerintah pada bulan ini.Perusahaan Lukoil dari Rusia, Perobras dari Brasil, dan Royal Ducth Shell dari Belanda yang digaet Pertamina itu dimaksudkan untuk menggarap lapangan lepas pantai laut dalam di Indonesia Bagian Timur.

“Kita memang sengaja gandeng partner untuk membidik laut dalam, merambah Indonesia Timur,” jelas Dirut Pertamina EP Tri Siwindono, di Jakarta, Rabu (8/8).

Menurut Tri, ketiga mitra Pertamina tersebut sangat berminat dengan WK laut dalam di Indonesia Bagian Timur. Salah satu WK yang diminati oleh ketiga mitra Pertamina EP tersebut adalah WK Semai di lepas pantai (offshore) Papua.

Tri menjelaskan, mitra Pertamina EP dari Rusia, Lukoil memang mengajak BUMN migas tersebut untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi migas di daerah baru. Akibatnya, Pertamina harus mengikuti tender yang dilaksanakan pemerintah.

Sebelumnya, kata Tri, kerjasama antara Pertamina EP dengan Lukoil memberikan konsekwensi, Pertamina bisa mengerjakan lapangan migas Lukoil begitu juga sebaliknya. Pihak Lukoil kemudian meneliti lapangan migas milik Pertamina. Namun, lapangan migas milik Pertamina dinilai tidak sesuai dengan harapan Lukoil.

“Mereka datang ke sini untuk kunjungan melihat-lihat lapangan kita tapi dia under estimated karena lapangan kita kecil-kecil. Lalu dia (Lukoil) ajak kita untuk nge-bid open block yang dibuka tender oleh pemerintah,” papar Tri.

Untuk Shell, kata dia, kerjasama difokuskan untuk melakukan studi bersama (joint study) potensi migas di daerah laut dalam di Indonesia Bagian Timur. Salah satu yang diminati adalah potensi migas di lepas pantai Papua.

“Tapi kita terbentur peraturan-peraturan di Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) dan Ditjen Migas Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), karena blok-blok itu ada yang sudah dikuasai pemain lama,” katanya.

Karena keseriusan ketiga mitranya, Tri menegaskan Pertamina akan serius untuk mencari WK di lepas pantai dan di laut dalam. Karena itu, Pertamina memutuskan tetap mencari blok baru di lepas pantai laut dalam.

“Kita tetap cari blok yang potensial. Pokoknya mau dengan Lukoil atau Petrobras atau dengan Shell. Kita tetap cari,” tegas Tri.

Sebelumnya, Direktur Pembinaan Usaha Hulu Ditjen Migas Departemen ESDM R Piyono mengatakan beberapa perusahaan migas Rusia menyatakan minatnya untuk berinvestasi padaWK di Indonesia Bagian Timur. Beberapa perusahaan migas seperti Lukoil dan Sevitech sudah menyatakan minat ke pemerintah.

“Ini baru pertama kali Rusia minat ke migas Indonesia, yang ikut tender perusahaan besar,” ujarnya.

Menurut Priyono, investor Rusia sangat serius ingin masuk berinvestasi ke migas di Indonesia. Pihak Rusia telah mengkaji semua WK migas yang akan ditenderkan bulan Agustus ini.

Investor Rusia sangat menginginkan WK besar di Indonesia Bagian Timur. Padahal, kegiatan eksplorasi dan eksploitasi di wilayah tersebut sulit dan membutuhkan dana besar.

“Satu sumur investasinya US$40, padahal di Jawa hanya membutuhkan US$5-10 juta untuk satu sumur,” ujarnya.

Soal tender, Priyono menuturkan total penawaran WK pada Agustus ini menjadi 25 WK. Rinciannya, North XRay di lepas pantura Jawa Barat (Jabar), North East Lombok I di lepas pantai utara Nusa Tenggara, North East Lombok II di lepas pantai utara Nusa Tenggara dan lima WK di lepas pantai Semai Barat Papua Barat dengan nama WK Semai I-V.

Selain itu, WK South East Tual di lepas pantai barat Arafura, Cakalang di lepas pantai Natuna, Kerapu di lepas pantai Natuna, Baronang di lepas pantai Natuna, Cucut di lepas pantai Natuna, dan Dolphin di lepas pantai Natuna.

Berikutnya, WK Bawean II di lepas pantai utara Jawa Timur Jatim),East Bawean I di lepas pantai utara Jatim, Gunting di daratan lepas pantai Jatim, Situbondo di daratan dan lepas pantai utara Jatim, Buton II di lepas pantai selatan Buton, Rangkas di daratan Banten, West Timor di daratan dan lepas pantai Timor, Palung Aru 1 dan Palung Aru 2 di lepas pantai Kepulauan Aru, North Bali 3 lepas pantai Bali utara dan Mahakam Hilir daratan Kalimantan Timur.

Media Indonesia

Bank Mandiri Minati Kilang LNG Tangguh

Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) mengatakan, tiga bank lokal sudah merespons undangan untuk mendanai sisa pembiayaan proyek kilang gas alam cair (liquified natural gas/LNG) Tangguh di Papua. Ketiga bank nasional itu akan bersaing dengan bank asing untuk mendanai kekurangan pendanaan kilang LNG Tangguh senilai US$884 juta.

“Yang pasti ada Bank Mandiri, yang lainnya saya tidak hapal. Tapi ada tiga bank lokal,” Deputi Finansial, Ekonomi dan Pemasaran BP Migas Eddy Purwanto di Jakarta, Rabu (8/8).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro menjelaskan, alasan ditawarkannya pendanaan kepada bank-bank lokal adalah karena pada waktu itu pemerintah menilai banyak dana dalam negeri yang tidak terpakai.

“Makanya kita didorong untuk menggunakan dana dalam negeri, ya kita sambut. Tapi harus dipahami, industri migas itu banyak resiko, ketidak pastian,” kata Purnomo.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, meski proyek tangguh ini diminta melihat pendanaan nasional, tapi nilai keekonomiannya tetap tidak boleh ditinggalkan.

“Ini kan proyek internasional, uangnya bukan dari pemerintah dan ini non recost finance. Kalaupun terjadi sesuatu di Tangguh, pemerintah tidak akan tanggung,” tegas Purnomo.

Sebelumnya, BP Migas dan perusahaan migas Inggris, BP, sebagai operator, mengundang institusi finansial lokal dan asing untuk ikut mendanai sisa pendanaan Tangguh.

Total kebutuhan proyek Tangguh senilai US$6,5 miliar, BP sudah mendapatkan US$3 miliar dari modal sendiri dan US$2,616 miliar dari bank internasional. Sedangkan sisanya US$884 juta,yang harusnya dari perbankan China, akan ditawarkan ke institusi finansial lokal dan asing, karena hingga saat ini belum ada kepastian. 

Eddy menjelaskan, tiga bank lokal akan bersaing dengan bank asing untuk bisa mendanai proyek kilang LNG Tangguh. BP sebagai operator, telah membuka penawaran bagi siapapun yang berminat ikut mendanai proyek tersebut.

Sejak pekan lalu, kata dia, sudah banyak lembaga keuangan yang memasukkan penawarannya sejak pekan lalu. Di antaranya adalah perbankan China, Jepang dan tiga bank dalam negeri.

的ni kan kompetisi penawaran belum masuk semua. Kita akan lihat situasi ke depan,・tuturnya.

Eddy memaparkan, bunga untuk pendanaan US$884 juta akan lebih tinggi dibandingkan pendanaan internasional yang sudah didapat BP.

Sebelumnya, ungkap Eddy, Agustus tahun 2006 BP mendapatkan pinjaman dari sejumlah institusi asing sebanyak US$ 2,616 miliar dengan tenor 15 tahun.

Rinciannya, Japan Bank for International Corporation (JBIC) US$1,2 miliar, Bank Pembangunan Asia (ADB) US$350 juta, dan bank komersial internasional senilai US$1,066 miliar.

釘unga yang kemarin kan London InterBank Offered Rates (LIBOR) plus 0,25%, yang ke depan lebih tinggi,・paparnya.

Eddy menambahkan, meskipun lebih tinggi, tapi tidak akan jauh berbeda. Berdasarkan perkiraan BP Migas, selisih suku bunga antara pendanaan US$2,616 dengan US$884 tidak akan mencapai 1%.

“Lebih tinggi dari yang kemarin, tapi angkanya masih LIBOR plusnya nol koma sekian. Tapi tawaran bunga kan kompetisi,” ujarnya.

Menurut Eddy, BP Migas menargetkan pendanaan US$884 juta ini bisa selesai Oktober 2007. Pendanaan ini akan melalui proses penawaran, evaluasi dan negosiasi. Setelah proses ini selesai, BP Migas dan BP akan menyiapkan kontrak pinjaman.

適ira-kira Oktober sudah tanda tangan loan agreement,・harapnya.

Proyek Tangguh dijadwalkan selesai sesuai rencana. Train pertama Kilang LNG Tangguh dijadwalkan selesai pada kuartal keempat 2008 dan train kedua pada kuartal pertama 2009.

Total cadangan gas terbukti Blok Tangguh mencapai 14,4 triliun kaki kubik (trillion cubic feet/TCF) dan cadangan belum terbukti 23,7 TCF. Saat ini Proyek Tangguh dimiliki oleh BP 37,16%, proyek Tangguh juga dimiliki CNOOC 16,99%, MI Berau BV 16,3%, Nippon Oil Exploration Ltd 12,23%, KG Berau/KG Wiriagar 10% dan LNG Japan Corporation 7,35%.

Media Indonesia

Akibat Gempa, Kilang Balongan Mati 3 Hari

Kilang Balongan milik PT Pertamina (persero) di Indramayu tak beroperasi (shut down) akibat gempa bumi berkekuatan 7 pada skala Richter yang terjadi Kamis dinihari (9/8).Pertamina memprediksikan kilang Balongan itu baru akan beroperasi kembali pada hari Minggu (12/8) mendatang.

Dirut Pertamina Ari Hernanto Soemarno menuturkan penyebab matinya kilang Balongan itu karena sekering (pemutus arus) pembangkit listrik kilang tersebut jatuh.

“Balongan sekarang sedang diperiksa, tapi kelihatannya tidak ada kerusakan. Tiga hari lagi sudah bisa produksi,” ucapnya usai penandatanganan tripartit wilayah kerja (WK) Randugunting, di Hotel Mandarin, Jakarta, Kamis (9/8).

Direktur Pengolahan Pertamina Suroso Atmomartoyo ketika dihubungi wartawan mengungkapkan, begitu terjadi gempa, kilang Balongan langsung shut down.

Saat ini, Pertamina masih berusaha menghidupkan kembali (start up) kilang Balongan. Meski demikian, Suroso menegaskan, matinya kilang Balongan tidak akan mempengaruhi distribusi bahan bakar minyak (BBM). “Stok BBM aman,” ujar Suroso.

Sebagai antisipasi kekurangan pasokan, rencana perawatan rutin (turn around/TA) kilang Balikpapan yang rencananya dilaksanakan minggu ini pun terpaksa ditunda.

Sebelumnya, Suroso mengungkapkan, satu dari dua kilang Crude Destilation Unit (CDU) di Balikpapan, yaitu CDU 4, akan menjalani perawatan rutin karena mengalami masalah teknis.

Kapasitas CDU 4 kilang Balikpapan itu sekitar 60.000 barel per hari. Produk yang dihasilkan dari unit ini antara lain BBM seperti solar dan bensin.

Sedangkan kilang Balongan memiliki kapasitas 165.662 barel per hari. Produk yang dihasilkan adalah BBM ramah lingkungan seperti Pertamax Plus, Pertamina Dex, Premium tanpa timbal, dan LPG (liquified petroleum gas).

Saat ini baru kilang Balongan yang produknya bisa menghasilkan gross marjin (laba kotor) sekitar 14%.

Produk yang dihasilkan kilang Balikpapan antara lain avtur, LPG, Premium, ADO (automotive diesel oil) atau solar untuk otomotif, IDO (industrial diesel oil), minyak tanah, dan LSWR.

Selain itu kilang ini juga menghasilkan sisa Naphthan yang kemudian diolah di kilang Balongan.

Pertamina memiliki tujuh unit kilang dengan kapasitas 1.051 juta barel per hari. Kilang Pangkalan Brandan berkapasitas lima ribu barel per hari, Dumai & S Pakning sebesar 170 ribu barel per hari, Musi sebesar 133 barel per hari, Cilacap sebesar 348 ribu barel per hari, Balikpapan sebesar 260 ribu barel per hari, dan Kasim sebesar 10 barel per hari.

Gempa yang berlangsung selama dua menit, Kamis (9/8) dini hari itu atau tepatnya pukul 00.04 WIB, terjadi di lokasi 6,17 lintang selatan dan 107,66 bujur timur. Pusat gempa diperkirakan berada 75 Km barat laut Indramayu, Jabar, di kedalaman 286 Km.

Media Indonesia

Pertamina Umumkan 3 Pemenang Tender Terminal LPG

PT Pertamina (Persero) mengumumkan tiga pemenang tender sewa terminal penampung liquified petroleum gas (LPG) di Jawa Timur dan Jawa Tengah.Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Achmad Faisal mengatakan ketiga proyek terminal tersebut adalah terminal LPG Tanjung Wangi, Banyuwangi, terminal LPG di Manyar, Gresik, dan terminal LPG di Semarang.

“Terminal LPG Banyuwangi dimenangkan PT Misi Mulya Metrical. Sedang terminal LPG di Manyar, Gresik, dimenangkan PT Maspion Stainless Steel dan di Semarang oleh konsorsium CPO,” kata Faisal di sela-sela diskusi program konversi elpiji, di Jakarta, Kamis (9/8).

Kapasitas masing-masing terminal adalah 10.000 ton LPG dengan nilai investasi US$30 juta per terminal.

Lebih lanjut, ia menjelaskan untuk wilayah Jawa Barat, pihaknya akan menempatkan tangki penampung terapung (floating storage) di lepas pantai Eretan, Jabar, sebagai upaya pengamanan pasokan konversi LPG.

“Kami akan melakukan tender sewa floating storage LPG di Eretan pada November ini, sehingga awal tahun 2008 sudah ditetapkan pemenangnya,” katanya.

Menurut Faisal, sekarang ini, pihaknya masih dalam proses perencanaan dan menghitung kebutuhan biaya.

Tangki berkapasitas 30.000-40.000 ton tersebut seharusnya sudah beroperasi saat kebutuhan program konversi mencapai 200 ton per hari pada tahun 2008. Saat ini, program konversi baru mencapai 54 ton per hari.

Tangki tersebut disewa selama dua tahun sampai beroperasinya terminal LPG di Eretan dengan kapasitas 160.000 ton. Proyek terminal tersebut dibangun Pertamina bersama Itochu (Jepang).

Faisal menambahkan, saat ini sebanyak empat perusahaan minyak asing telah menyatakan minat membangun tangki penampung LPG berkapasitas 120.000 ton di Jawa Timur. Keempat perusahaan itu adalah SK Corp, BP Plc, ConocoPhillips dan Petronas.

“Kami masih melakukan beauty contest terhadap mereka,” katanya.

Namun, lanjut Faisal, pihaknya hingga saat ini, belum menetapkan lokasi pasti terminal LPG tersebut.

Berdasarkan keterangan Direktur Pemasaran dan Distribusi Pertamina Hanung Budya, Pertamina menargetkan proses pembangunan ketiga terminal bisa diselesaikan akhir 2009.

Media Indonesia

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.