Lasik, Beri Kenyamanan Beraktivitas

KACAMATA selama ini masih menjadi solusi mengatasi masalah penglihatan.Namun, mata lelah, tidak nyaman,pegal sering dikeluhkan para penggunanya.

Metode lasik kemudian menjadi pilihan terbaru dalam mengatasi keterbatasan itu.Komedian dan desainer Robby Tumewu adalah salah seorang yang telah mencoba Lasik.

“Motivasi aku mau dilasik itu untuk penampilan. Aku juga enggak nyaman menggunakan kacamata karena mata pegal, lelah, dan sangat mengganggu,” ujarnya saat ditemui di acara seminar lasik di Klinik Mata Nusantara Jakarta, belum lama ini. Menurut spesialis mata dari Klinik Mata Nusantara dr Viktor Rasoebala SpM, dalam perkembangannya, lasik dilakukan melalui beberapa tingkatan.

Dahulu prinsipnya laser, tetapi lebih kuno, kornea tidak terlebih dahulu dibuka tetapi langsung dilaser.Jadi akan ada luka terbuka di kornea sehingga butuh waktu 1-2 bulan tumbuh ari untuk menutupi luka yang dilasik,” paparnya. Kornea adalah bagian dari mata yang membantu melihat lebih fokus untuk menghasilkan objek di retina. Cara kerja yang sama apabila lensa kamera yang menghasilkan objek di film.

Pembengkokan dan pemusatan objek biasa disebut refraksi atau pembiasan. Dengan ketebalan kornea yang berbeda-beda,penanganannya pun akan berbeda pula. Viktor mengungkapkan, dalam penanganan terkini bentuk kulit kornea dibuka lebih dulu, lalu dilaser dan ditutup kembali. Bisa dibilang, tidak akan ada luka terbuka dan rasa sakit. “Itu merupakan keuntungan dari lasik karena tidak ada area yang terbuka dan ditutup kembali di tempat yang dilasik,” ungkapnya.

Mengurangi mata minus, menurut dokter yang tergabung dengan organisasi Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ini, ada beberapa cara. Ada operasi tanpa laser, yaitu kornea disayat seperti jari-jari sepeda. Di Indonesia jarang dilakukan metode ini, tapi di India metode ini dipakai karena faktor biaya yang lebih terjangkau.

Efek pengobatan mata minus dengan cara ini adalah setelah 10–20 tahun penglihatan pasien akan terganggu karena luka akibat sayatan di kornea akan mengakibatkan cahaya yang masuk ke mata berpendar. Pada pasien seperti ini,metode lasik sudah tidak bisa dipakai, menggunakan kacamata juga tidak akan membantu. Bahkan,mata minus akan kembali lagi.

Prinsip dari mata minus itu sebenarnya, semakin besar minus seseorang,semakin kecil bayangannya. ”Ada pasien yang mata kanan dan kiri memiliki perbedaan yang sangat jauh. Misalnya, yang satu minus satu dan yang satunya minus empat. Ini disebut mata malas atau dalam istilah populernya lazy eyes,” katanya.

Dengan dilasik, kedua mata akan sama normalnya. Karena menggunakan variable spot scanning, titik-titik sinar laser yang dipancarkan diatur sesuai ukuran dan bentuk kornea mata pasien.Apabila astigmat tidak terlalu cembung, spot lebih kecil, intensitas sinar juga lebih kecil. Pada miopi (mata minus), kornea akan lebih cembung, tetapi selama kornea dan retina dalam kondisi bagus, serta tidak ada kelainan, lasik dapat dilakukan.

Namun, tidak dianjurkan bagi penderita tiroid karena bisa menyebabkan mata kering dan iritasi. Sementara itu, untuk penderita miopi dan presbiopi (mata plus) yang terjadi pada usia di atas 40 tahun, setelah dilasik untuk penglihatan jauhnya akan normal, tetapi untuk melihat dekat tetap harus menggunakan kacamata baca. Bagi penderita astigmat atau silinder, sebenarnya mempunyai prinsip yang hampir sama dengan penderita miopi. Perbedaannya hanya pada kecembungan di dua meridian.

Menurut dr Rini Hersetyati SpM, dokter mata di Klinik Mata Nusantara, keuntungan lasik itu sendiri sangat beragam, selain pasien bebas dari kacamata, prosesnya tidak lama dan bebas rasa sakit dan nyeri. “Kenyamanan dan risiko komplikasi yang kecil juga menjadi motivasi utama banyak pasien yang datang untuk dilasik,” katanya. Agar metode ini bisa berhasil optimal, harus ada sejumlah kriteria yang harus dipenuhi.

Pasien yang boleh dilasik itu korneanya harus sehat, usia harus lebih dari 18 tahun karena refraksi sudah stabil. “Selain itu, visus atau tajam penglihatan terkoreksi dengan kacamata, pasien juga tidak pernah memiliki penyakit mata yang parah, tidak ada penyakit thyroid, tidak sedang hamil,dan tidak menderita diabetes,” tandas Rini.

Seputar Indonesia

Iklan

Perihal buletin
Blog Berita Buletin Bisnis Blog ini Berisi Ringkasan info Bisnis dan Ekonomi/ This Blog consist of economic and business news. Bila anda tertarik untuk memberikan kritik atau saran atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silahkan kirim melalui email ke buletinbisnis@yahoo.com/ If you have any critic, suggestion or need further information, please feel free to send the question to buletinbisnis@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: