Rekor Seribu Layang-Layang

REKORlayang-layang dicetak ribuan anak-anak TK di Pantai Karnaval Ancol, Jakarta.Namun,mereka belum memilih layang-layang sebagai permainan utama mereka.

Kenapa? Pantai Karnaval Ancol, Minggu (2/9) kemarin, dipenuhi layang-layang lagi. Pantai yang ada di kawasan Jakarta Utara ini termasuk sering menggelar festival layang-layang. Tapi, kali ini berbeda. Di acara bertajuk 1000 Kites Festivalkemarin,peserta yang berpartisipasi tidak lagi bapakbapak atau anak-anak muda, melainkan 1.078 anak-anak TK dan sekolah dasar dari seluruh Jakarta. Sejak pagi kemarin suasana Pantai Karnaval sudah sangat meriah. Pantai ini langsung diserbu ribuan anak-anak kecil. Bersama orangtuanya, mereka tampak ceria membawa layang-layang milik mereka.

Kesempatan ini memang sangat jarang karena festival layang-layang yang pernah diselenggarakan di Pantai Karnaval selalu melibatkan orang-orang dewasa. Adapun, anak-anak selalu kebagian jatah sebagai penonton. Rasa senang tiada tara dialami Maura Sekar Amari Lukito. Menurut murid SD Al-Izhar Pondok Labu, Jakarta Selatan ini, dirinya sudah berada di Pantai Karnaval sejak pukul 05.00 WIB. Ketika mengetahui ada festival layang- layang untuk anak-anak TK dan SD, Maura memang meminta kedua orangtuanya untuk datang lebih pagi.

Maklum, ini merupakan kesempatan yang sangat jarang bagi Maura. Namun, semangat besar Maura justru tidak berbalas. Ketika berusaha diterbangkan, layangannya justru turun melulu. “Aku seneng banget,tapi layanganku turun melulu. Susah juga main layangan,” ujar Maura. Meski sedikit sedih, Maura tetap merasa senang. Karena itu, selain bisa bermain layang-layang, dia dan ribuan anak-anak TK dan SD lainnya berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan kategori memainkan layang-layang dengan peserta terbanyak. Sebelumnya, tahun 2002, rekor ini dipegang oleh salah satu produk minuman ringan yang berhasil mengajak 400 anak-anak di seluruh Jakarta bermain layang-layang.

Saat ini main layang-layang tidak hanya identik dengan permainan anak-anak. Orang dewasa juga ikutan bermain layang-layang,sekadar mengenang masa kecil. Tapi tetap saja penggemar utama mainan ini sebenarnya adalah anakanak. Namun, seiring dengan waktu anakanak sekarang justru mulai meninggalkan layang-layang. Godaan permainan elektronik seperti PlayStation, Xbox, dan Nintendo membuat anak-anak cenderung melupakan permainan layang-layang. Dengar saja apa kata Daffa,siswa SD AL-Fajar. Menurut dia, lebih senang bermain PlayStation maupun Xbox ketimbang bermain layang-layang. Alasannya, praktis.

“Soalnya gak panas, tapi aku tetap senang bisa main layangan,” kata Daffa. Apa yang dirasakan Daffa memang dirasakan oleh anak-anak lainnya.Bermain layang-layang memang sangat mengasyikkan, sayang sekali tidak setiap hari mereka bisa bermain layang-layang. Di daerah perkotaan, bermain layang- layang justru makin sulit. Masalah utama adalah sulitnya mencari lokasi untuk bermain layang-layang. Akibatnya, orangtua lebih senang melarang anaknya bermain layang-layang karena berbahaya.

Bermain di jalan selain bahaya tertabrak, juga bahaya tersengat listrik. Jadi, jangan kaget kalau saat ini mereka diam-diam lebih senang bermain PS ketimbang bermain layangan. Pengamat anak dan Ketua Komnas Anak Seto Mulyadi punya teori sendiri kenapa anak-anak lebih senang bermain PS ketimbang mencoba permainan tradisional seperti layang-layang. Menurut pria kelahiran Klaten, 28 Agustus 1951 ini, minimnya reward membuat anak-anak beralih ke permainan elektronik daripada permainan tradisional. “Kehadiran orangtua sangat diperlukan untuk membimbing anak mencoba permainan tradisional. Sebaiknya, ketika anak-anak mencoba permainan tradisional harus sering diberikan pujian,” ujar Kak Seto.

Permainan elektronik sangat diminati anak-anak karena menurut Kak Seto,banyak anak-anak menerima pujian dari temannya jika berhasil menang main PS. Selain pujian, Kak Seto mengatakan, pengaruh lingkungan dan televisi berpengaruh besar atas pilihan anakanak dalam menentukan permainan. Kebetulan, saat ini yang sangat sering terlihat di lingkungan masyarakat adalah anak-anak yang bermain PS ketimbang bermain layangan. “Mereka juga berpikir permainan elektronik itu permainan yang modern. Apalagi ditambah pengaruh televisi yang sering memperlihatkan anakanak bermain games,” ucap Seto. Kak Seto sendiri berharap,orangtua memang benar-benar memberikan pengenalan akan permainan tradisional terhadap anak-anak. Karena itu,menurut dia, permainan tradisional penuh dengan nilai-nilai ketimbang permainan elektronik seperti PS dan Nintendo. “Layang-layang sangat baik buat anak-anak.

Dari permainan itu bisa didapat semangat kerja sama, mengenal alam dan kerja keras,”ucapnya. Usaha untuk mengembalikan permainan layang-layang kepada anakanak sebenarnya telah dilakukan sejak lama.Museum layang-layang Indonesia yang dipimpin oleh Endang Widjanarko Puspoyo telah bekerja sama dengan PT Gemalindo Visitama meluncurkan program workshop layang-layang bertajuk Kids 2 Kids. Bahkan, ketika 1.000 Kites Festival digelar kemarin, Endang langsung ikut hadir. Dia tampak serius memberikan semangat kepada anak-anak TK yang bermain layang-layang.

Seputar Indonesia

Iklan

Perihal buletin
Blog Berita Buletin Bisnis Blog ini Berisi Ringkasan info Bisnis dan Ekonomi/ This Blog consist of economic and business news. Bila anda tertarik untuk memberikan kritik atau saran atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silahkan kirim melalui email ke buletinbisnis@yahoo.com/ If you have any critic, suggestion or need further information, please feel free to send the question to buletinbisnis@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: