Hingga Juli, Terdapat 167 Tuduhan Dumping

Hingga Juli 2007, terdapat 162 kasus tuduhan dumping terhadap produk Indonesia. Tuduhan dumping ini lebih banyak dilontarkan negara-negara maju.”Jumlah kasus yang dituduhkan ke Indonesia hingga Juli 2007 berjumlah 163 kasus dengan perincian tuduhan dumping 138 kasus, subsidi 11 kasus, dan safe guards 14 kasus,” ujar Direktur Pengamanan Perdagangan (DPP) Departemen Perdagangan (Depdag) Martua Sihombing, dalam Seminar Masalah Bahan Baku dan Tuduhan Dumping Industri Pulp dan Paper di Indonesia di Jakarta, Selasa (4/9).

Hingga kini, ujarnya, baru 91 kasus yang dihentikan oleh negara penuduh. Sementara, 41 kasus dikenakan dan 31 kasus masih dalam proses.

Martua menyatakan, selain tuduhan dumping, Indonesia juga dituduh melakukan subsidi dan safe guard. Padahal tindakan tersebut sah-sah saja untuk melindungi produsen lokal. Menurut data DPP, negara-negara yang melakukan tuduhan terhadap Indonesia paling banyak adalah Uni Eropa 26 kasus, diikuti Amerika Serikat 20 kasus, Australia dan India masing-masing 18 kasus, dan Afrika Selatan dengan 12 kasus.

“Yang menarik, tuduhan dumping ditujukan bukan karena Indonesia melakukan praktik tersebut tetapi karena baik pengusaha dan pemerintah tidak menjawab dengan baik tuduhan-tuduhan tersebut,” tuturnya.

Industri pulp dan kertas adalah salah satu industri yang terbesar yang terkena efek tersebut. Salah satu yang hingga kini masih dalam proses penyelesaian dengan keterlibatan Dephut, Depdag, dan Depkeu, yaitu tuduhan dumping coated free sheet oleh Amerika Serikat yang ditujukan untuk Sinar Mas Group.

Tuduhan tersebut terdiri dari tiga skema, yaitu pelanggaran di masalah kehutanan (program HTI, illegal logging dan stumpage), perdagangan (ekspor kayu gelondongan), dan keuangan restrukturisasi perbankan/ BPPN).

“Untuk satu kasus ini saja, jumlah tuduhannya terdiri atas 7.500 lembar. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perusahaan lain yang lebih kecil menghadapi masalah ini,” ulasnya.

Di tempat yang sama, Ketua Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Mansjur menilai, dampak pemberlakuan tarif oleh AS terhadap produk pulp dan paper Indonesia tidak banyak mempengaruhi devisa Indonesia.

Sebab, ekspor ke AS hanya 4% dari total ekspor pulp dan paper Indonesia ke dunia. Namun, efek domino yang ditimbulkan dari penerapan tarif tersebut bisa mengimbas ke komoditi lain, ataupun ke jenis kertas lain.

Media Indonesia

Iklan

Perihal buletin
Blog Berita Buletin Bisnis Blog ini Berisi Ringkasan info Bisnis dan Ekonomi/ This Blog consist of economic and business news. Bila anda tertarik untuk memberikan kritik atau saran atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silahkan kirim melalui email ke buletinbisnis@yahoo.com/ If you have any critic, suggestion or need further information, please feel free to send the question to buletinbisnis@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: