Impor Mesin Meningkat 10% Setiap Tahun

Impor produk permesinan mengalami peningkatan sebesar 10% per tahun.Departemen Perindustrian (Depperin) memastikan nilai impor barang modal termasuk mesin masih lebih tinggi dari ekspornya hingga lima tahun ke depan.

“Bisa dipastikan sampai lima tahun ke depan, impor barang modal akan lebih tinggi dari ekspor barang modal di Indonesia,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Fahmi

Idris, ketika membuka pameran mesin peralatan dan perlengkapan rumah tangga di gedung Depperin, Jakarta, Selasa (4/9)

Fahmi menjelaskan, nilai impor yang lebih tinggi dari ekspornya disebabkan tingginya kebutuhan akan barang modal bagi industri dalam negeri. Misalnya, kebutuhan peralatan mesin yang digunakan oleh industri petrokimia dan otomotif.

適ebutuhan beberapa industri untuk peralatan permesinan masih belum dibuat di dalam negeri. Misalnya industri petrokimia dan beberapa industri lain yang memang kita masih belum bisa bersaing seperti industri otomotif,・terangnya.

Ia mencontohkan, impor mesin pencetak pintu mobil yang biasanya digunakan oleh industri otomotif. Dengan kekuatan daya tekan dua hingga 10 ton, proses pencetakan pintu mobil berlangsung cepat.

的tu saja kita belum bisa bikin. Padahal dengan perubahan berbagai model mobil, maka kebutuhan mesin cetaknya berbeda dan berubah-ubah,・imbuhnya.

Industri lain yang masih mengimpor mesin adalah industri pembangkit listrik. Hanya turbin saja yang belum bisa diproduksi, dengan kapasitas di atas 10 megawatt.

泥i listrik tinggal turbin saja yang masih agak tertinggal,・ujar Fahmi.

Terkait hal itu, pemerintah melalui Menperin telah menandatangani nota kesepahaman dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk pengembangan turbin. Pihak yang terkait antara lain, PT Nusantara Turbin dan Propulsi, PT Barata Indonesia, serta PT Pindad dengan Depperin.

泥ari MoU yang dibuat tadi, kapasitas yang akan dikembangkan sekitar 10 Mw, padahal kita juga butuh kapasitas di atas itu. Satu perusahaan tadi juga sudah bisa membuat boiler berkapasitas 50 Mw,・papar dia.

Konsekuensinya, kata Fahmi, impor barang modal pasti akan lebih tinggi daripada ekspornya. Data statistik lima tahun terakhir menunjukkan impor produksi permesinan, termasuk komponennya telah menunjukkan kenaikan rata-rata 10% per tahunnya. Sedangkan nilai ekspornya masih lebih kecil daripada impor, yakni sebesar 8,32%.

Pada 2001, ekspor produk permesinan dan komponen mencapai angka US$1,288 miliar yang meningkat menjadi US$2 miliar pada 2006. Sementara, nilai ekspor pada 2001 sebesar US$4,3 miliar meningkat menjadi US$7 miliar pada 2006.

Di sisi lain, Menperin juga mengungkapkan kekhawatiran akan munculnya gejala ketergantungan masyarakat akan produk impor.

Oleh karena itu, ia mendorong instansi pemerintah pusat dan daerah, BUMN/BUMD untuk bisa menjadi pelopor optimalisasi penggunaan produk dalam negeri, pada setiap pengadaan barang dan jasa.

Media Indonesia

Iklan

Perihal buletin
Blog Berita Buletin Bisnis Blog ini Berisi Ringkasan info Bisnis dan Ekonomi/ This Blog consist of economic and business news. Bila anda tertarik untuk memberikan kritik atau saran atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silahkan kirim melalui email ke buletinbisnis@yahoo.com/ If you have any critic, suggestion or need further information, please feel free to send the question to buletinbisnis@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: