DPR Dukung Penuh Kebijakan Politik Bebas Aktif

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mendukung sikap pemerintah yang menjalankan garis politik bebas aktif dengan membangun hubungan yang lebih serius dengan Rusia. Sehingga, Indonesia bisa melepaskan kebijakan politik luar negeri unilateral yang dipraktikkan selama masa Orde Baru.Demikian diungkapkan oleh anggota Komisi Idari Fraksi PDI Perjuangan Andreas Pareira, Yuddy Chrisnandi (FPG), dan Jeffrey J Massie (FPDS) kepada Media Indonesia di Gedung MPR/DPR Senayan Jakarta, Jumat (7/9).

Menurut Andreas, langkah pemerintah yang membuat delapan perjanjian dengan Rusia ketika Presiden Federasi Rusia Vladimir V Putin datang ke Indonesia merupakan langkah besar untuk berkontribusi dalam mengembangkan sistem politik luar negeri bebas aktif.

“Itu langkah yang tepat bagi Indonesia untuk melepaskan diri dari keberpihakan unilateral yang sudah lama dilakukan ketika Orde Baru. Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah melakukan langkah yang melanjutkan kebijakan Ibu Megawati ketika menjadi Presiden,” kata Andreas.

Ia melanjutkan, pemerintah Indonesia harus bisa menunjukkan bahwa kerjasama dengan Rusia bukan berarti bangsa ini telah mengubah kebijakan luar negerinya yang selama ini cenderung ke kubu barat. Tapi, pemerintah harus bisa menunjukkan bahwa membuka kerjasama dengan Rusia adalah upaya pelurusan kembali praktik kebijakan politik luar negeri yang bebas aktif.

“Perlu ditekankan bahwa Indonesia tidak pernah memusuhi barat dan Amerika Serikat. Tapi Indonesia menjaga keseimbangan dalam memenuhi kebutuhannya yang besar agar tidak selalu terhambat. Baik oleh hambatan politik atau hambatan lainnya,” cetus Andreas.

Karena itu, lanjutnya, setelah membangun hubungan dengan Rusia di bidang ekonomi dan pertahanan, hendaknya pemerintah juga meluaskan hubungannya di bidang pertahanan dengan China dan India. “Sehingga, secara pertahanan dan ekonomi, Indonesia menjadi kawab baik negara-negara raksasa lain di Asia ini,” tegas Andreas.

Sedangkan, Yuddy Chrisnandi menyatakan pemerintah harus menjadikan kehadiran Presiden Putin sebagai momentum revitalisasi hubungan bilateral baru. “Hubungan baru ini menitikberatkan pada aliansi kerjasama pertahanan dan ekonomi dengan fondasi yang kokoh,” ujar Yuddy.

Dia menambahkan, pemerintah harus membangun aliansi di bidang pertahanan dan ekonomi dengan Rusia yang bersifat strategis jangka panjang. Sehingga ada ikatan yang kuat antara kedua negara untuk saling melindungi kepentingan bersamanya.

Sementara , Jeffrey J Massie memuji langkah pemerintah yang berhasil mencari sumber alternatif dalam pengadaan alat utama sistem pertahanan (alutsista). Pemerintah harus benar-benar yakin bahwa Presiden Putin memegang teguh kata-katanya dalam memberikan janji, tidak hanya sekedar menyenangkan Indonesia tanpa bukti konkrit.

“Kalau bicara martabat mungkin itu hanya bahasa diplomatis beliau saja. Bangsa yang diakui martabatnya tentu berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Tidak dengan cara diiming-imingi pinjaman senilai US$1 miliar. Yang meminjamkan dan yang dipinjamkan itu kan beda dong statusnya,” cetus Jeffrey.

Media Indonesia

Iklan

Perihal buletin
Blog Berita Buletin Bisnis Blog ini Berisi Ringkasan info Bisnis dan Ekonomi/ This Blog consist of economic and business news. Bila anda tertarik untuk memberikan kritik atau saran atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silahkan kirim melalui email ke buletinbisnis@yahoo.com/ If you have any critic, suggestion or need further information, please feel free to send the question to buletinbisnis@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: