Perbankan Masih Enggan Bertransaksi Derivatif

Mayoritas bank devisa masih enggan melakukan transaksi derivatif karena trauma atas krisis moneter maupun kelemahan dalam hal kompetensi sumber daya manusia, sistem akunting serta settlement. Hal ini dinilai menjadi salah satu faktor tipisnya pasar valas domestik hingga kini.Dalam pidatonya yang dibacakan Direktur Pengelolaan Devisa Bank Indonesia Rasmo Samiun, di Jakarta, Seni (10/9), Deputi Gubernur BI Aslim Tadjuddin mengatakan BI telah selesai melakukan pemetaan terhadap pasar valas domestik. Tujuannya untuk mengetahui detil situasi pasar terkini, khususnya kendala yang dihadapi pelaku pasar.

Dari pemetaan tersebut, diketahui masih banyak dari 73 bank devisa yang ada saat ini enggan melakukan transaksi valas atau derivatif. Kendala utamanya, adalah kebijakan internal bank dalam menerapkan prinsip kehati-hatian.

“Hanya bank besar dan asing yang aktif melakukan transaksi itu, sementara sebagian besar bank lain masih belum aktif, karena faktor internal dan risk managemen yang belum siap sehingga mereka perlu hati-hati,” ucapnya.

Kendala lain, lanjutnya, adalah penerapan penilaian terhadap resiko kredit yang ketat bagi setiap counterparty yang melakukan transaksi valas/derivatif. Hal itu disebabkan adanya dampak lanjutan dari pengalaman bank saat krisis lalu. Sehingga untuk mengurangi resiko transaksi derivatif, sebagan bank mewajibkan adanya jaminan tambahan bagi nasabah dalam bertransaksi.

BI berpandangan, pengembangan pasar valas/derivatif di Indonesia merupakan hal yang perlu dilakukan untuk mendukung kegiatan ekonomi nasional. Namun, rata-rata transaksi pascakrisis ternyata masih lebih rendah dibandingkan rata-rata transaksi prakrisis. Per Agustus 2007, rata-rata transaksi valas/derivatif sempat mencapai US$4,5 miliar per hari. Sedangkan pada saat sebelum krisis, rata-rata transaksi mencapai US$5 miliar per hari.

“Di Australia, pasarnya sudah sangat besar dengan turn over mencapai US$80 miliar per hari. Penurunan kita cukup signifikan karena dipengaruhi nilai tukar. Kurs tukar kita sekarang sudah Rp9.000 dari yang dulu Rp2.000. Jadi kalau kita hitung dalam dolar, turn over kita turun,” jelasnya.

Untuk mendorong peningkatan volume pasar, kata dia, akan sangat tergantung pada peningkatan kinerja ekspor impor, diiringi kegiatan pinjam meminjam antara lembaga domestik dan internasional.

Dengan volume pasar yang relatif masih dangkal tersebut, ia menilai masih riskan bagi perbankan untuk melakukan transaksi derivatif melalui bursa berjangka.

Media Indonesia

Iklan

Perihal buletin
Blog Berita Buletin Bisnis Blog ini Berisi Ringkasan info Bisnis dan Ekonomi/ This Blog consist of economic and business news. Bila anda tertarik untuk memberikan kritik atau saran atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silahkan kirim melalui email ke buletinbisnis@yahoo.com/ If you have any critic, suggestion or need further information, please feel free to send the question to buletinbisnis@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: