Restrukturisasi Garuda Lambat

Restrukturisasi utang PT Garuda Indonesia (Garuda) dinilai berjalan lambat.Padahal, restrukturisasi diperlukan untuk mendukung privatisasi perseroan.Menurut aturan, harus ada restrukturisasi, baru bisa privatisasi,” ujar anggota Komisi VI DPR Hasto Kristianto di Jakarta,kemarin. Menurutnya, ketentuan yang dimaksud adalah Undang- Undang No 19/2003 tentang BUMN. UU itu menyebutkan bahwa privatisasi dapat dilakukan setelah restrukturisasi struktural perusahaan BUMN diselesaikan oleh departemen teknis. Kemudian, perusahaan yang akan diprivatisasi sebelumnya wajib merestrukturisasi korporasi, mulai dari sisi sumber daya manusia sampai finansial. ”Kita tidak bosan-bosan mengingatkan langkah-langkah ini kepada Kementerian Negara BUMN, tapi mereka tidak pernah tanggap,” tutur Hasto.

Dia khawatir, jika kondisinya dibiarkan seperti ini, Garuda akan kehilangan daya tarik. Garuda akan kalah bersaing dengan perusahaan penerbangan swasta. Di sisi lain, menurutnya, Komisi VI DPR mendorong agar Garuda melepas anak-anak perusahaannya yang tidak terkait langsung dengan bisnis inti perusahaan.Tujuannya, terang Hasto,untuk mengurangi beban finansial perusahaan. ”Misalnya bisnis rumah sakit, lalu katering, seharusnya di-spin off (dilepas) saja supaya tidak jadi beban,” ujarnya. Sementara itu, Ketua Tim Restrukturisasi Garuda Sahala Lumban Gaol yang dihubungi kemarin enggan berkomentar terkait perkembangan restrukturisasi utang perusahaan ini.

”Nanti besok saja,” ujar Sahala yang juga Komisaris Garuda ini. Seperti diberitakan SINDO, manajemen Garuda berunding dengan pihak Airbus pekan ini. Garuda meminta agar produsen pesawat asal Eropa tersebut membantu Garuda dalam bernegosiasi dengan kreditor terbesar Garuda,European Export Credit Agency (ECA). Masalah utang Garuda ini bermula pada 1989. Garuda mempunyai kontrak dengan Airbus untuk membeli sembilan pesawat. Dari sembilan itu, enam pesawat telah didatangkan dan tiga sisanya belum. Dana yang digunakan untuk membayar Airbus itu berasal dari utang ECA sebesar USD463 juta.

Dalam pertemuan dengan Airbus, Garuda juga akan membahas kelanjutan tiga pesawat yang belum datang karena Garuda telah membayar uang muka sebesar USD2,3 juta ke Airbus. Sesmeneg BUMN Said Didu mengatakan, pihak Garuda sudah berunding dengan Airbus terkait restrukturisasi utang pada minggu lalu. Namun, dia mengaku belum mengetahui hasil yang dicapai dari pertemuan tersebut.”Saya belum tahu bagaimana hasilnya, tapi nanti akan sya tanya ke manajemen,” kata dia. Dia menuturkan, masalah dalam restrukturisasi Garuda dan ECA adalah ECA meminta agar pemerintah ikut menjamin utang perseroan. Saat ini, lanjut Said, masalah jaminan pemerintah itu masih dalam tahap pembahasan dengan Menteri Keuangan.

Seputar Indonesia

Perihal buletin
Blog Berita Buletin Bisnis Blog ini Berisi Ringkasan info Bisnis dan Ekonomi/ This Blog consist of economic and business news. Bila anda tertarik untuk memberikan kritik atau saran atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silahkan kirim melalui email ke buletinbisnis@yahoo.com/ If you have any critic, suggestion or need further information, please feel free to send the question to buletinbisnis@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: