Polisi Gendut di Jepang berjuang Melawan Obesitas

Biasanya di dalam Drama TV sering ditampilkan detektif berbadan ramping berhasil menangkap tertuduh dalam upaya menangangi kejahatan.

Tapi kenyataannya saat ini, kebanyakan polisi Jepang terlihat akan kalah terutama dalam menghadapi ukuran pinggang yang membengkak.

Kecemasan terhadap bentuk badan polisi dimulai sejak 10 tahun lalu ketika Masyarakat Jepang untuk Kajian Obesitas (JASSO) menetapkan definisi ketat tentang kelebihan berat.

Dengan menggunakan indeks massa tubuh (BMI), dimana berat badan dibagi tinggi JASSO menetapkan seseorang dengan BMI 25 atau lebih masuk dalam kategori kelebihan berat badan.

Sedangkan yang BMInya dibawah 18.5 dikategorikan kekurangan berat badan dan yang BMInya diantara 18.5-25 dikategorikan sebagai normal. Untuk yang BMInya diatas 30 atau lebih didefinisikan sebagai obes.

Sebagai contoh, seseorang yang tingginya 170 cm dan beratnya 75 kilogram mempunyai BMI 25.9 yang artinya orang tersebut kelebihan berat badan.

Dengan menggunakan BMI, Polisi diseluruh Jepang telah diukur dan hampir 40 persen masuk kategori kelebihan berat badan atau obes.

Angka tersebut tetap bertengger diantara 35 dan 40 persen dalam beberapa tahun terakhir.

Satu prefektur yang menjadi pusat perhatian karena banyaknya polisi yang kelebihan berat badan ialah Gunma, yang rasio kepemilikan mobilnya merupakan yang tertinggi di Jepang karena kurangnya pilihan transportasi umum.

Empat tahun lalu, pada saat rapat parlamen prefektur Gunma, salah seorang pejabat tinggi kepolisian berjanji akan melakukan sesuatu bagi para polisi yang kelebihan berat badan.

Rencananya para polisi tersebut akan diwajibkan untuk berpartisipasi dalam kelas kendo dan judo serta pelatihan teknik penangkapan dan diharapkan akan meningkatkan penangkapan terhadap para penjahat.

Saat itu, sekitar 40 persen polisi dinyatakan kelebihan berat badan pada saat pemeriksaan kesehatan reguler.

Di Gunma, prosedur normal polisi dalam melakukan penyelidikan dengan menggunakan kendaraan bukan dengan berjalan kaki. karena kebanyakan polisi merasa kesulitan untuk berjalan sejauh 10 ribu langkah sehari.

Dan selanjutnya berbagai upaya dilakukan.

Di salah satu kantor polisi, 19 orang polisi dibagi dalam dua kelompok untuk melakukan patroli jalan kaki.

Pada awalnya, pejabat polisi prefektur Gunma berupaya memecahkan masalah ini dengan menyarankan program diet bagi para polisi yang kelebihan berat badan. Namun upaya tersebut ternyata tidak berdampak besar dan selanjutnya program yang lebih agresif dilaksanakan.

Pada 2006, program jalan kaki diperkenalkan untuk mendorong para polisi berjalan 300 ribu langkah dalam satu bulan dan sekitar 3.700 polisi diberikan pedometer.

Program jalan kaki yang lain juga dimulai dengan nama “menyelesaikan marathon Hakone”, dalam program ini para polisi didorong untuk berjalan sejauh 200 kilometer, jarak yang sama dengan balap lari terkenal yang biasanya diselenggarakan tiap Januari antara distrik Otemachi Tokyo sampai Danau Ashino Hakone.

Pada 2007, Upaya lain dilakukan dengan mendorong para polisi berjalan sejauh 210 km, jarak yang sama antara taman peringatan perdamaian di Itoman Prefektur Okinawa sampai ujung utara pulau Okinawa.

Atau sama dengan berjalan kaki sejauh 7 km sehari dalam sebulan tapi pada tahun itu hanya seperempat polisi atau sekitar 860 orang saja yang menyelesaikannya.

Penyakit Gaya Hidup

Setelah melakukan berbagai upaya, ternyata tinggal 38 persen polisi Gunma had BMInya lebih tinggi dari 25 dibanding tahun 2007.

Sebagai tambahan, ada peningkatan jumlah polisi yang menghadapi masalah penyakit gaya hidup yakni tekanan darah tinggi dan kadar gula tinggi.

Alasan umum dibelakang kurangnya perbaikan ialah gaya hidup tidak biasa para detektif sewaktu menangani penyelidikan kasus pembunuhan atau pencurian yang terkait gangster.

Tren yang sama juga ditemukan di kepolisian prefektur Aichi yang mengeluarkan skor BMI rata-rata berdasarkan kelompok.

Pada dua kelompok yang mengurus kejahatan terorganisir, sekitar 60 persen polisi kedapatan kelebihan berat badan. dan berbagai kelompok di departemen penyelidikan kriminal mendominasi puncak daftar.

Bahkan sempat terdengar kabar, ada pejabat tinggi kepolisian Gunma yang hampir mengundurkan diri terkait isu para polisi yang kelebihan berat badan.

Pada saat kejahatan terjadi, polisi dipanggil tanpa memandang waktu sehingga jadwal makannya tidak jelas dan mereka biasanya makan makanan ringan dan makan malam terlambat sehingga boleh dikatakan gaya hidupnya sangat tidak sehat.

Saat ini Polisi di berbagai Prefektur semakin mendapat tekanan karena pemeriksaan kesehatan pada bulan April yang difokuskan pada pencegahan dan eliminasi sindrom metabolisme.

Diantara upaya yang dilakukan oleh markas kepolisian Aichi ialah menyediakan menu rendah kalori di kantin kantor polisi yang mulai berlaku sejak Januari 2006.

Sedangkan di Kepolisian Prefektur Fukui, diselenggarakan program yang mendorong para polisi berjalan kaki sejauh 10.000 langkah sehari selama Juni sampai November 2007.

Sekitar 80 persen dari 600 orang polisi telah turun berat badannya dan sekitar 20 persen mengungkapkan BMInya telah turun ke tingkat normal.

Namun, polisi senior juga menghadapi kenyataan yang sulit.

Salah seorang detektif, berusia sekitar 40 tahun yang bertugas di kepolisian prefektur Gunma mempunyai bobot 80 kilogram dan tinggi sekitar 170 cm. dengan BMI lebih dari 25 dalam satu dekade terakhir.

Menurut Polisi tersebut mungkin berat badan saya akan turun bila berjalan kaki secara reguler tapi saya tidak bisa kerja kalau tidak menggunakan mobil.

Perihal buletin
Blog Berita Buletin Bisnis Blog ini Berisi Ringkasan info Bisnis dan Ekonomi/ This Blog consist of economic and business news. Bila anda tertarik untuk memberikan kritik atau saran atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silahkan kirim melalui email ke buletinbisnis@yahoo.com/ If you have any critic, suggestion or need further information, please feel free to send the question to buletinbisnis@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: