IJEPA tingkatkan akses pasar dan daya saing produk Indonesia di Jepang

Departemen Perdagangan optimis kesepakatan kemitraan ekonomi Indonesia-Jepang akan membuka akses pasar untuk produk unggulan serta meningkatkan daya saing produk Indonesia.

Halida Miljani Staf Khusus Menteri Perdagangan Bidang Kerjasama Internasional mengungkapkan tujuan implementasi kerjasama IJEPA adalah untuk saling melengkapi dan mengisi, dalam hal ini Jepang menjadi tujuan ekspor produk Unggulan Indonesia dan di sisi lain Indonesia memasok sumber daya energi dan mineral bagi Jepang.

Produk unggulan Indonesia di Pasar Jepang antara lain karet dengan nilai ekspor USD 1.06 miliar, kayu dengan nilai ekspor USD 1.01 miliar, pertanian dan perikanan dengan nilai ekspor USD 923 juta dan alas kaki dengan nilai ekspor USD 118 juta.

Sementara, untuk meningkatkan daya saing produk, dalam IJEPA juga dicantumkan rencana pembentukan Pusat Pengembangan Industri Manufaktur (Manufacturing Industry Development/MIDEC), yang bertujuan mengembangkan 13 industri antara lain pengerjaan logam (metal working), energi, tekstil, elektronik, otomotif.

Halida mencontohkan untuk tekstil dan produk turunannya yang diproduksi didalam negeri memiliki mutu yang bagus, namun banyak mesin produksinya yang sudah tua sehingga harus diganti, diharapkan melalui adanya MIDEC masalah itu akan dapat diatasi sehingga bisa kembali meningkatkan produksi.

Perihal buletin
Blog Berita Buletin Bisnis Blog ini Berisi Ringkasan info Bisnis dan Ekonomi/ This Blog consist of economic and business news. Bila anda tertarik untuk memberikan kritik atau saran atau membutuhkan informasi lebih lanjut, silahkan kirim melalui email ke buletinbisnis@yahoo.com/ If you have any critic, suggestion or need further information, please feel free to send the question to buletinbisnis@yahoo.com

3 Responses to IJEPA tingkatkan akses pasar dan daya saing produk Indonesia di Jepang

  1. widya mengatakan:

    sebelumnya perkenalkan saya widya mahasiswa HI yang sedang menyusun skripsi tentang perspektif Indonesia terhadap IJEPA. selama mencari data, saya membaca bahwa produk indonesia belum banyak yang masuk ke pasar Jepang karena standar kualitas konsumen Jepang yang sangat tinggi. dari sini saya mengartikan jika produk Indonesia belum memenuhi standar kualitas tersebut. apakah benar demikian??dan mengapa?

    trimakasih banyak atas balsannya

    • Januar Silang mengatakan:

      @ widya

      Memang benar untuk produk jadi seperti consumer goods,produk Indonesia belum menjadi raja di Jepang karena terbentuk dengan standarisasi yang dikeluarkan oleh jepang. Jepang terkenal memiliki aturan dan prosedure yang sangat ketat dan rumit terkait standarisasi produk impor. Sebetulnya standarisasi ini adalah salah satu bentu dari Hambatan perdagangan Non Tariff Barriers (NTB).

      Dalam Skema IJEPA, untuk memperlancar arus perdagangan dan investasi kedua negara diatur melalui cara penurunan tarif dan bentuk teknikal asisstance. Menurut saya kelemahan dari IJEPA adalah tidak diaturnya skema penurunan NTB yang ditetapkan oleh Jepang bagi produk2x impor. Implikasinya adalah walaupun terjadi penurunan tarif akan tetapi tidak diiringi oleh penurunan NTB. Sehingga walaupun di jepang tarif masuk produk impor hingga 0% produk kta akan tetap sulit menembus pasar di Jepang karena terhambat standarisasi.

      Untuk pertanyaan bahwa produk Indonesia tidak memenuhi standard Internasional menurut saya kurang tepat, karena setiap produk yang layak ekspor sudah melalui prosedure standarisasi yang dikeluarkan pemerintah Indonesia. Akan tetapi Standarisasi bersifat “kabur” tergantung keingingan dari negara tujuan dan bisa juga dijadikan alat hambatan perdagangan non tariff.

      Kita ambil analogi seperti ini, untuk produk perikanan misalnya udang. Indonesia adalah penghasil Udang di Dunia dan telah dikenal kualitas produk udang. Indonesia melakukan ekspor udang ke Jepang karena di Jepang tingkat konsumsi produk udang sangat tinggi,akan tetapi guna melindungi industri udang di Jepang maka digunakanlan NTB dalam hal ini standarisasi kesehatan dan produksi udang bagi produk udang impor. Tentu saja standarisasi yang dibuat akan dibuat sesulit mungkin bagi produk impor supaya menghambat masuknya produk tersebut sehingga dapat melindungi produk lokal. Mereka akan menggunakan standarisasi ini untuk menolak produk udang kita, sehingga akan lebih efektif menggunakan instrumen ini daripada instrumen tarif bea masuk. Tarif bea masuk sudah dilarang oleh WTO dan larangan tersebut berlaku bagi negara2x anggotanya termasuk Jepang.

      Disinilah kelehamah IJEPA tidak mengatur NTB secara jelas, yang diatur hanyalah peraturan yang in the short term menguntungkan akan tetapi in the long term tidak terlalu menguntungkan bagi Indonesia/tidak jelas keungutannya.

      Apabila anda tertarik lebih jauh mengenai IJEPA mungkin anda dapat menghubungi saya di januarsilang@yahoo.com

  2. widya mengatakan:

    saya sering kali mendengar jika produk Indonesia belum bisa memenuhi standar kualitas jepang terbukti dengan belum banyaknya produk Indonesia yang masuk pasar Jepang. benarkah demikian? dan mengapa?apa yang menyebabkan produk indonesia kalah bersaing dengan negara lain?

    trima kasih atas balasannya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: