Restoran Le Seminyak, Membawa Atmosfir Bali Ke Jakarta

Selama ini orang yang tinggal di Jakarta hanya mempunyai sedikit pilihan bila hendak menyantap masakan Bali. Namun bila pun ada restoran yang menghidangkan masakan Bali biasanya hanya masakan saja tapi atmosfirnya tidak terlalu merepresentasikan Bali.

Didorong oleh kenyataan tersebut maka Novi Kusuma, Penikmat masakan Bali dan juga manajer Citrus Kafe Tebet, tertarik untuk membuka restoran yang menghidangkan masakan khas Bali sekaligus menghadirkan atmosfir resort di Bali dengan desain interior yang didominasi warna tanah, penempatan pohon kemboja, dekor palem, patung dan relief tari legong, musik bali serta menggunakan furnitur buatan Bali.

Bekerjasama dengan Nyoman Lother Arsana, Chef yang pernah bekerja di Grand Hyatt Hotel Bali dan telah mengeluarkan dua buku masakan The Food of Bali dan Authentic Recipes from Indonesia, Novi mulai mempersiapkan Le Seminyak sejak Bulan Januari 2008.

Menurut Novi, konsep Le Seminyak ialah perpaduan (fusion) antara hidangan Bali orisinal gaya Tabanan, yang merupakan daerah asal Chef Nyoman, dengan Seminyak, daerah di Bali yang penuh dengan butik, galeri seni dan fine dining resto yang mewah.

Chef Nyoman mengungkapkan untuk menu yang dihidangkan semuanya merupakan resep yang tradisional yang didapat dari orang tuanya yang juga tukang masak tradisional Bali, namun menunya telah disesuaikan dengan selera masyarakat yang tinggal di Jakarta.

Saat ini Le Seminyak telah menyiapkan lebih dari limapuluh menu pilihan kreasi dari Chef Nyoman, Beberapa menu yang direkomendasikan antara lain Bebek Betutu (bebek yang dibungkus dengan pelepah pisang), Sate Lilit (sate dengan bahan dasar ikan laut, tusuk satenya dari sereh) dan Ikan Bakar Jimbaran (ikan laut bakar dengan bumbu khas jimbaran) dengan harga mulai dari Rp 22.800 sampai Rp 78.800.

Waktu buka Le Seminyak dari Senin sampai Minggu, dari pukul 10.00 sampai 22.00 WIB, dengan kapasitas tempat duduk sebanyak 135 kursi dan memiliki beberapa ruangan tematis seperti bale bengong (gazebo khas Bali yang dihiasi akar liang), window area yang pada bagian atasnya dihiasi lampu dengan ornamen burung dan fountain area dengan relief penari legong pada bagian dindingnya.

Le Seminyak Restaurant
Pacific Place 5th Floor
Jl Jendral Sudirman Kav 52-53
Jakarta 12190
Phone : (021) 5140-0610

Imedeen Prime Renewal, Perlindungan Kulit dari dalam bagi Wanita diatas 50 tahun

Masalah penuaan kulit bagi wanita merupakan masalah yang sangat sensitif karena terkait dengan penampilan, namun hal tersebut merupakan hal yang alami dan semua orang pasti akan mengalaminya.

Menurut Edwin Juanda, dokter kulit di Jakarta Skin Center, proses penuaan sendiri bagi manusia umumnya terjadi mulai usia 25 tahun, dan bagi para wanita ketika mencapai usia diatas 50 tahun dan biasanya sudah menginjak masa menopause, penuaan kulitnya semakin terlihat nyata sehingga kebutuhan akan kulit yang sehat dan bercahaya sangat menjadi idaman.

Lebih lanjut, dokter Juanda menjelaskan karena proses penuaan kulit adalah hal yang alami maka yang bisa dilakukan hanyalah memperlambat yakni dengan menghindari stres, melakukan olahraga teratur, memperbaiki pola makan dan menghindari kulit dari terpaan langsung sinar matahari.

Sedangkan untuk perlindungan kulit ada dua cara yakni dari dalam, dengan meminum suplemen dan dari luar dengan menggunakan sunblock.

Terkait dengan perlindungan kulit dari dalam, PT Jamu Puspo Internusa kamis (08/07) meluncurkan produk Imedeen Prime Renewal yang berisikan ekstrak alami seperti kacang kedelai, teh putih, tomat, biji anggur dan biota laut yang ditujukan untuk melindungi kulit dari radikal bebas dan degdradasi enzim serta merevitalisasi lapisan kulit dengan memberikan nutrisi dari dalam.

Dalam kesempatan peluncuran, PT Jamu Puspo juga menghadirkan Dr Lars Lindmark, Vice President for Scientific and Development Ferrosan Denmark yang telah melakukan dokumentasi ilmiah berbagai penelitian terhadap produk Imedeen Prime Renewal, yang menjelaskan berdasarkan kesimpulan dari berbagai penelitian yang telah dilakukan terhadap Imedeen Prime Renewal maka minum 4 tablet Imedeen dua kali dalam sehari antara 3 sampai 6 bulan efektif untuk memperbaiki kepadatan dermal, mengurangi garis halus dan kerutan, mengurangi pigmentasi serta menstimulasi regenerasi sel-sel kolagen.

Andre Utoyo, Direktur PT Jamu Puspo Internusa mengungkapkan Imedeen telah dijual di jaringan apotik seperti Guardian, Century dan Kimia Farma mulai awal Agustus 2008 dengan harga Rp 1.045.000,- per botol untuk diminum selama 1 bulan.

Imedeen adalah adalah merek dagang tablet perawatan kulit yang bekerja di lapisan dermal kulit, tempat yang tidak dapat dicapai produk krim perawatan kulit. Imedeen diproduksi oleh Ferrosan, perusahaan farmasi Denmark dan saat ini telah didistribusikan di 21 negara baik Eropa seperti Inggris, Perancis,  Asia Jepang, Hong Kong, Singapura serta Amerika Serikat dan Australia.

Koleksi Keramik Kreasi Galeri Kollekan

1. Bukit Damai

2. Disini Ada Banyak Tempat

3. Rumah Pohon

4. Hutan

5. Tempat Lilin Rumah Sedang

Untuk Informasi detil tentang Harga
Silahkan Hubungi Sofi
di Galeri Kollekan
Jl. Abdul Majid 15,
Cipete Utara,
Jakarta Selatan.
Phone : (021) 7694543

Advertorial : Korean Culinary Journey

Advertorial

Cross Stitch Point, Kembangkan Kerajinan Cross Stitch dengan Motif lokal

 

Cross Stitch Point,
Kembangkan Kerajinan Cross Stitch dengan Motif lokal

Pernah melihat kerajinan Cross Stitch dengan pola batik, pakaian, tarian dan makanan tradisional Indonesia.

Mungkin saat ini, hanya Cross stitch point  yang menyediakan karya seperti itu, yang dibuat sendiri oleh pemilik tokonya.

Aryati (50 tahun) dan Niniek (44 tahun) merupakan pemilik Cross Stitch Point, yang memulai tokonya sejak tahun 2000.

Menurut Aryati, kebanyakan karya cross stitch yang ada di Indonesia sampai awal tahun 2000 masih didominasi oleh pola dari Amerika Serikat, Eropa atau animasi.

Namun Aryati, kemudian melakukan  terobosan dengan membuat pola cross stitch yang didasarkan pada pola-pola khas Indonesia dengan tujuan memperkenalkan budaya Indonesia kepada orang asing dan peminat budaya lokal, saat ini sudah ada 100 motif yang telah dibuat.

Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa sebagian besar pembeli ditokonya adalah orang asing, sehingga karya cross stitch dengan motif khas Indonesia bisa menjadi kenang-kenangan dari negara Indonesia.

Awalnya, untuk menjual kerajinan cross stitch buatannya, pada tahun 2000 Aryati menjual pada bazar di tingkat RT yang ada di lingkungannya dalam rangka ulang tahun kemerdekaan Indonesia, selanjutnya ia juga ikut dalam bazaar yang diselenggarakan oleh kedutaan asing, yang ternyata mendapatkan respon yang cukup besar karena para ekspatriat biasanya merasa ‘wajib’ membeli barang di pameran.

Aryati sendiri awalnya adalah seorang arsitek gedung kantor. namun pada waktu krisis moneter 1998 banyak proyek pembangunan gedung yang dihentikan dan akibatnya Aryati pun kehilangan pekerjaan dan selanjutnya pindah ke Perusahaan Furnitur, namun karena terlalu menguras tenaga, waktu serta pikiran. akhirnya usaha di bidang furnitur pun dihentikan.

Untuk Cross Stitch sendiri, Aryati membuat kerajinan ini sejak kecil, yang biasanya dilakukan setelah usai pulang sekolah, menurut Aryati hal yang membuatnya sangat tertarik dengan cross stitch ialah karena diajarkan langsung oleh Ibu dan juga karena awet dan dapat dipajang dalam waktu yang lama.

Motif tradisional yang dikembangkan dalam karya cross stitch buatannya antara lain batik, nasi goreng, bajaj, pakaian adat nusantara dan kostum penari dari berbagai daerah di Indonesia.

Menurut Aryati, motif nasi goreng merupakan pengembangan dari motif yang telah ada sejak jaman Belanda, sedangkan motif bajaj dipakai karena merupakan salah satu ikon kota Jakarta.

Motif Batik diambil dari motif kain batik yang sudah ada terutama dari kawasan Yogyakarta.

Untuk pakaian adat nusantara hampir sebagian besar motif pakaian adat yang ada di Indonesia sudah termasuk didalamnya antara lain Bali, Kalimantan, Jawa dan Betawi.

Sedangkan kostum penari antara lain tari yapong, tari jaipong, tari legong, tari dayak dan panji semirang dengan gradasi warna yang menarik. 

Untuk motif, menurut Aryati semua disainnya dibuat sendiri. sedangkan motif-motif tersebut dipilih karena permintaan untuk motif yang terkait dengan budaya lokal Indonesia sangat tinggi, terlebih lagi karena pembelinya kebanyakan adalah wanita, baik orang lokal maupun asing, yang pada dasarnya ingin mengetahui lebih dalam mengenai kekayaan budaya yang ada.

Namun bukan berarti cross stitch tidak diminati pria, menurut Aryati beberapa wanita yang datang ke tokonya baik di Panglima Polim, Mal Ambassador dan ITC BSD untuk membeli bahan seperti kain dan benang, memberitahukan kalau suami mereka juga suka membuat cross stitch tapi biasanya mereka meminta tolong istri untuk membelikan bahan-bahannya.

Untuk bahan pembuatan, saat ini semuanya masih impor. namun sebelum tahun 2005, beberapa pabrik di Indonesia masih memproduksi wol dan kain strimin yang menjadi bahan dasar pembuatan cross stitch tapi karena harga bahan baku semakin mahal sedangkan daya beli tidak terlalu besar maka akhirnya banyak pabrik yang menghentikan produksinya.

Di Cross Stitch Point, kerajinan cross stitch dijual baik dalam bentuk yang sudah jadi atau yang masih dalam bentuk bahan dasar yakni benang dan kain strimin serta ada pola didalamnya sehingga pembeli yang sudah paham cara menyulam cross stitch dapat membuat sendiri.

Sedangkan untuk harga, yang masih berbentuk kit mulai dari Rp 22.000 sampai Rp 340.000. sedangkan yang sudah jadi mulai dari Rp 40.000 sampai Rp 1.5 juta namun cross stitch point juga menerima pesanan pembuatan dan pengerjaan motif yang diinginkan pelanggan.

Di Cross Stitch Point, pembeli yang belum paham cara membuat karya cross stitch bila sudah membeli kit akan diberikan kursus kilat dan selanjutnya bisa membuat sendiri.

Cross Stitch Point
Jl Panglima Polim I No 94
Kebayoran
Phone : (021) 726-2408

Kempinski Private Residence Jakarta, Pertama di Asia Tenggara

Kempinski Private Residence Jakarta, Pertama di Asia Tenggara

Hotel Kempinski Indonesia rencananya pada Bulan September 2008 akan meluncurkan Kempinski Private Residence pertama yang beroperasi di Asia Tenggara.

Gerhard Mitrovits, General Manager Hotel Indonesia Kempinski ( 06/18 ) mengungkapkan Jakarta dipilih sebagai lokasi pertama untuk Kempinski private residence di Asia Tenggara karena Jakarta telah terbukti sebagai kota internasional yang kompetitif.

Menurut Mitrovits, Kempinski Private Residence didisain sesuai dengan gaya hidup dinamis dan modern yang direfleksikan dengan konsep ruang gerak yang luas dan akan menawarkan layanan khusus individualistik dan ditujukan bagi para tenant yang berencana untuk menetap dalam jangka panjang.

Hanny Wahyuni, Director Public Relations Hotel Indonesia Kempinski menjelaskan Private Residence 58 lantai ini berisi 263 unit yang tersedia dalam 3 tipe yakni Penthouse dengan luas 690 m2 hingga 750 m2 sebanyak 3 unit dan sisanya 260 unit, terdiri dari tipe 3 kamar tidur seluas 261 m2 dan tipe 2 kamar tidur seluas 162 m2.

Harga jual per unit mulai dari USD 400,000,-, sedangkan harga sewa per bulan mulai dari USD 3,600,-

Nyoman Punia, Manager Kempinski Private Residence
mengungkapkan saat ini telah terjual 140 unit kepada pembeli lokal dan asing.

Pada dasarnya, pihak pengelola akan memberikan layanan 24 jam bagi para tenant mulai dari layanan domestik seperti laundry and cleaning, concierge dan juga layanan lain seperti layanan belanja keperluan sehari-hari.

Selain menjelaskan rencana pembukaan private residence, Hotel Indonesia Kempinski juga memperkenalkan busana yang nantinya akan dikenakan oleh para stafnya.

General Manager Mitrovits menjelaskan Pihak Hotel pada 6 bulan yang lalu telah mengundang beberapa fashion designer untuk mengirimkan contoh rancang busananya dan setelah melalui proses seleksi akhirnya pilihan jatuh pada rancangan milik Oscar Lawalata.

Menurut Mitrovits, disain Oscar dipilih karena konsepnya mengkombinasikan budaya Indonesia dan lifestyle internasional yang juga sesuai dengan imej Hotel Kempinski Indonesia.

Sementara Oscar menyatakan bangga disain rancangannya dipilih untuk dikenakan oleh staf Hotel Indonesia Kempinski karena sejarah panjang yang dimiliki hotel ini.

Untuk mempersiapkan konsep seragam, menurut Oscar diperlukan waktu tiga bulan yang digunakan untuk riset terkait imej perusahaan dan juga interior, yang bertujuan untuk mencari warna yang sesuai, selain itu juga harus memenuhi kriteria elegan, ramah, praktis dan nyaman untuk dipakai.

Secara keseluruhan, seragam yang dirancang memadukan unsur tradisional dan modern, yang ditampilkan melalui penggunaan sentuhan sulam dengan motif batik dan juga pemakaian kain songket sehingga menampilkan kesan antik dan kekayaan budaya lokal.

Ada 38 jenis seragam yang dibuat untuk para staf hotel Indonesia Kempinski, namun dalam kesempatan presentasi hanya ditampilkan 8 rancangan yakni untuk guest relation, receptionist, restaurant dan vallet service officer.

J.Co Hadirkan Donat Hazelnut dengan filling Coffe Cream

J.Co Hadirkan Donat Hazelnut dengan filling Coffe Cream

J.CO Donuts & Coffee mulai April kembali menghadirkan produk baru yakni Hazel Dazzle (donat unik dengan topping hazelnut chocolate dan filling coffe cream di dalam lingkaran donat).

Gita Herdi, Senior Marketing Communications Manager J.Co Donuts & Coffe mengungkapkan ini pertama kalinya J.Co mengeluarkan produk yang berbahan dasar Hazelnut.

Hazelnut dipilih, karena kacang ini termasuk salah satu yang populer di Indonesia, selain itu karena mengandung kalsium, lemak, vitamin E dan folic acid yang baik untuk kesehatan.

Sebagai informasi tambahan Hazle Dazzle merupakan produk ring donat pertama didunia yang ada filling di dalam lingkarannya.

Filling yang berisikan coffe cream ini, ditujukan untuk menyambung kerenyahan kacang yang ditaburkan pada toppingnya.

Proses pembuatannya yakni setelah donat selesai dikeringkan, supaya minyak turun, selanjutnya 1/3 donat dibelah dan diangkat lalu filling dimasukkan kemudian dilapisi topping.

Donat Hazle dazzle menambah jumlah koleksi donat J.Co menjadi 25 pilihan rasa, dengan harga Rp 5,900 per donat.

Butterfly-theme Painting Exhibition at Kemang Village

Butterfly-theme Painting Exhibition at Kemang Village

 

A couple of butterfly stuck on flower, its wing beautifully widen which consist of various colour and pattern also decorated with gems and trinkets, that is one of 50 works of Sasya Tranggono, mostly butterfly and flower, which displayed at Kemang Village from April 27 to May 11, 2008.

 

Sasya said, the exhibition with title Endless Love, which represent God Loves to all His creation endlessly, then butterfly and flower is His creation that add beauty to the world.  

 

Butterfly not only beautiful but also describe that human being should make a metamorphosis to be better. and flower represent Women destiny that always coonected with tenderness, beauty and never-ending love.

 

Sasya start learning painting on 1995 in Rotterdam Netherland and had organize more than 20 exhibition in Indonesia and abroad, such as Netherland, Singapore, Tunisia and Kuala Lumpur. and for the first time, in this exhibition, she explore new painting technique that mix watercolour and trinkets which applied especially in decorating the butterflies.

 

Those works that displayed also for sale with price start USD 1.500,-

 

Kemang Village

Jl Pangeran Antasari 36 P Kemang

Phone 7255-999

Old Minangkabau Fabrics Presented in National Museum

Old Minangkabau Fabrics Presented in National Museum

National Museum from 7 to 30 April 2008, is hosting Minangkabau Traditional Fabric Exhibition, in cooperation with West Sumatra Province.There are 120 old fabrics with various motif that is unique, beautiful and full of symbolic meaning that displayed during the event.

Retno Sulistianingsih, National Museum Head said that the purpose of the exhibition is to make jakarta people especially students to know more about West Sumatra Fabrics, because west sumatra have a big influence, business and culture, to other provinces in sumatra through its people that have a community in each capital of sumatra provinces.

Retno Further explain that most of the fabrics that display during the event is the traditional and classic one and first time presented for exhibition purpose. the fabrics that dispalyed categorize based on its making technics such as songket (hand-woven), sulaman (embroidery) and kulit kayu (bark cloth).

There’s a story about the bark cloth fabrics, during japanese occupation this fabrics become trend because there are a shortage of textile and its price become expensive. so people in minangkabau, especially in Lima Puluh Kota district, then develop this material for shirt and trouser because its cheap and the material easy to find.

James Hellyward, West Sumatra Tourism Office Head said that for Minangkabau people, Fabrics has a high value and very much related with daily life and also use for ceremony such as wedding and traditional chief appointment.

James also mention that the fabric’s motif usually inspired from plants, animal and flower also from foreign influence such as Europe, India, China and Arab.

In addition the exhibition also show miniatur of rumah gadang (minangkabau traditional house).

Opening hours
Tuesday-Thursday, 8.30 am to 2.30 pm, Friday 8.30 am to 11.00 am. Saturday 8.30 am to 1.30 pm and Sunday 8.30 am to 2.30 pm. Monday is close.

Museum Nasional
Jl Medan Merdeka Barat 12
Jakarta Pusat
021-3868172

Miffy comes to Jakarta

miffy.jpg

Miffy comes to Jakarta

Miffy, a little rabbit girl character loves by children and teen which drawned by Dick Bruna that the works had a translated in 40 language, had an exhibition in Erasmus Huis, Jakarta from April 4 to may 22, 2008.

Bonny Van Sighem, senior registrar at Centraal Museum Utrecht said that the exhibition is aimed to introduce the works of famous dutch graphic designer, Mr Dick Bruna through his most famous creation, Miffy which rendered in simple lines and primary colours.

Bonny further said the exhibition of Miffy abroad is the first time collaboration work between Erasmus Huis and Centraal Museum Utretch. The museum had 5,000 items collection of Dick Bruna’s works.

In the exhibition, there are 120 works of Bruna including pencil and ink drawings of miffy, Bruna’s other characters also be shown – plus book jacket designs, poster commissions for organisations such as Amnesty International, postage stamps, photos and other memorabilia.

In the exhibition room also provided a space for people both children or adult to draw a graphic character.

Opening Hours
Monday to Thursday 9 am to 4 pm
Friday and Saturday 9 am to 2 pm

Erasmus Huis
Jl. HR Rasuna Said Kav. S-3
Kuningan Jakarta 12950
(021) 524 1069

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.